Showing posts with label the life. Show all posts
Showing posts with label the life. Show all posts

July 29, 2013

dua Ramadhan tiga Lebaran

Times fly....!!betapa cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin saya nangis-nangis tak mau meninggalkan indonesia ketika Ramadhan 1431 H. Sedih rasanya saat Lebaran kurang seminggu dan harus pindah. Padahal Lebaran adalah saat berkumpul dengan keluarga dan me halon silaturahmi. Tapi apa mau dikata, tahun ajaran baru untuk sekolah S2 di Nijmegen segera dimulai awal September, jadi tetaplah harus pergi meski berat. Sejak itu, momen Lebaran selalu saya lalui di tanah rantau, Eropa. At least sebelumnya saya sudah mempersiapkan hati, jika Lebaran 2010 akan menjadi momen terakhir saya di Indonesia, ternyata benar saja. Yap!dan tahun ini akan menjadi Lebaran KETIGA di Belanda.

Well, untuk masalah rasa tidak perlu ditanyakan dan saya ceritakan. Terlalu retoris lah yaaa...yang ingin saya bagikan adalah tentang Ramadhan dan Lebaran yang selalu berkesan meski jauh dari kampung halaman.

Lebaran 2011 adalah saat pertama Lebaran di tanah rantau. Bersyukur sekali ketika di Nijmegen ada keluarga Kemuni yang selalu merayakan Lebaran meski dengan keterbatasan dan kesederhanaan, namun tetaplah bermakna. Masih begitu lekat dalam ingatan saya, hari itu setelah sholat saya nangis dan susah berhenti. Entah dengan alasan apa yang saya tidak tahu, air mata saya mengalir dengan derasnya, hingga orang-orang bingung ada apa dengan saya. Kesedihan yang tertahan mungkin, tapi setelah beberapa saat akhirnya reda juga. Saat itu pula, saya bertemu dengan seorang teman dari kota tetangga, Arnhem. Namanya mbak Indri dan setelah panjang lebar bercerita, ternyata kami adalah tetangga!! Dia berasal dari Magelang dan rumahnya hanya berbeda RW dengan rumah eyang saya yang juga di Magelang. Alhasil, kamipun ngbrol tentang tradisi Lebaran yang biasanya kami lalui di Magelang. Dan obrolan ringan kamipun mampu sedikit mengobati kesedihan saya. Ternyata ada teman berbagi dan senasib. Saya pun merasa cukup tegar melalui Lebaran yang jauh dari kampung halaman.

Dari momen Lebaran 2011 itu, di tahun selanjutnya saya juga menghabiskan Ramadhan dan Lebaran di Belanda. Tahun 2012 adalah Ramadhan yang penuh tantangan, tapi syukurlah saya mampu melaluinya juga. Puasa pertama di tanah rantau, jauh dari keluarga, menjadi kaum minoritas, dan durasi berpuasa di kala musim panas. Perpaduan yang sulit, tapi saya yakin akan bisa melaluinya, pengalaman langka yang tidak semua orang mendapatkan dan sanggup. Untunglah, bulan Ramadhan jatuh saat musim liburan, sehingga aktivitas pun sedikit berkurang. Tapi tetep dasarnya saya tidak bisa diam, libur musim panas pun saya habiskan 2 minggu di Utrecht untuk mengikuti summer school infection and immunity. Lumayan untuk tambahan kredit dan ilmu. Puasa selama kurang lebih 18 jam pun tidak begitu terasa. Tapi menahan haus sungguh memerlukan tenaga ekstra. Suhu udara dan kelembaban yang tinggi membuat cepat haus. Itu tantangan terberat saya, mungkin untuk kaum adam, menjaga pandangan akan menjadi lebih berat..:p
Dan bulan Ramadhan pun diakhiri dengan Lebaran bersama keluarga Kemuni lagi. Lebaran 2012 terasa lebih berkesan karena berhasil menuntaskan Ramadhan dan dirayakan bersama lebih banyak anggota Kemuni. Rasanya seperti di Indonesia karena ada ketupat dan aneka masakan khas Lebaran. Meski sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga besar di Indonesia, tapi Lebaran di rantau masih cukup berkesan dan mampu mengobati kerinduan kampung halaman.

Tak terasa, Ramadhan 2013 pun datang juga. Bersyukur sekali masih bisa bertemu dengan bulan penuh rahmah. Tahun ini pun akan saya habiskan Ramadhan dan Lebaran di rantau karena sebentar lagi saya wisuda dan "nanggung" jika harus mudik, apalagi permit saya juga akan habis. Jadi "neng thoyib" deh saya, 3 Lebaran tak pulang..:p Tak mengapa asalkan senang dan masih bisa menelpon keluarga di Indonesia. Mungkin juga ini Lebaran terakhir saya di Eropa, so nikmati saja, semua pasti ada hikmahnya. Di manapun berada, entah Indonesia ataupun Eropa, toh masih di bumi Allah... :) semoga puasa Ramadhan membawa berkah bagi semua dan kita kembali fitri saat Lebaran nanti..

Written during "heart of Europe trip" on board of ICE train with my poPod...:)

June 11, 2013

galau...siapa takut??

Tahun kedua sebagai master student. Bagi sebagian orang hal tidak terlalu menjadi masalah mungkin, karena kebanyakan mahasiswa yang sekolah di luar negeri biasanya sudah memiliki posisi (pekerjaan) tetap di Indonesia. Selesai S2 bisa dong langsung kembali mengabdi pada negara atau perusahaan yang menyekolahkan. Namun, bagi sebagian kecil yang lain, tahun kedua mungkin menjadi masa penentuan lagi, termasuk saya. 

Yap! tahun ini saya harus memikirkan apa yang akan saya lakukan setelah selesai S2. Istilah kerennya GALAU lah ya...galau lagi..galau lagi... kapan selesainya yah ini galau?? perasaan jaman saya SMP ke SMA, SMA ke kuliah, kuliah ke S2, belum terlalu mengenal istilah itu. Dulu si adalah ya bimbang memilih sekolah, takut, dan khawatir tidak diterima, nanti ke depan seperti apa. Tapi tidak ada itu istilah galau. Tapi sekarang ng-trend banget sepertinya. Sedikit-sedikit galau, galau inilah, galau itu lah, pokoknya semua ada galaunya. hmmmmm..... 

Tapi memang begitu mungkin siklusnya, harus ada galaunya dulu sebelum mantab dengan pilihan. Saat ini pun saya galau, walau mungkin tak begitu terlihat jika dibanding jaman awal-awal S2. Galau bagaimana melanjutkan hidup setelah lulus nanti (semoga). Meskipun pilihan selalu ada, tapi mungkin tidak semuanya baik bagi saya. Harus selektif dan teliti untuk melangkah, jalan mana yang terbaik dan cukup memungkinkan untuk saya capai. Dua bulan kedepan mungkin akan menjadi bulan galau, mencoba melihat peluang, membaca suasana, dan menyesuaikan dengan kondisi faktual. Tapi mungkin saja saya tidak akan terlalu memikirkan dan cenderung membiarkan semua mengalir. Seperti sebuah quote yang pernah saya baca "If everything has been written, why should be worry?? Yang pasti akan ada Dia yang selalu menuntun kemana kaki ini akan melangkah. Bukan begitu?? 

curcol??
mungkin... :p 

March 15, 2013

it is not spring yet

Salju di luar masih saja turun, meski tidak begitu deras dan tidak menumpuk seperti bulan-bulan sebelumnya, tapi tetap dingin. Sudah bulan maret dan suhu masih saja dibawah nol derajat. Terkadang berasa surga jika melihat perkiraan cuaca diatas nol derajat. Well, tapi tak mengapa toh ini winter kedua saya, sudah mulai terbiasa hidup di belahan bumi dengan empat musim. Selama tidak mengganggu aktivitas harian dan masih bisa bersepeda, saya tidak akan terlalu banyak komplain. Dingin? sudah pasti. Baju berlapis-lapis? wajar. Sepatu boots? wajib juga. Namanya tinggal di negeri empat musim semua persiapan harus matang jika tidak ingin mengeluh terus dan tetap hidup wajar seperti penduduk asli. Walaupun toh, mereka juga kadang mengeluh. Intinya, life must go on whatever the conditions. Bukan begitu?? 

Hehehehe... harusnya saat ini saya menulis satu paragraf thesis yang cukup menentukan, tapi saya ingin sejenak beranjak ke blog yang sudah lama sekali rasanya saya tinggalkan. Sedihnya, padahal biasanya saya cukup rajin memposting tulisan, walau terkadang tidak terlalu penting dan mungkin tidak ada yang mengunjungi. saya cukup tahu, tulisan-tulisan saya terlalu lugu dan banyak menceritakan kehidupan saya selama di Belanda. Kalau mau dirubah, ya.... sudah begini style saya menulis, apa adanya dan apa yang ingin saya ungkapkan saat itu. Jika mungkin ada yang membaca saya cukup senang, jikapun tidak, saya juga tidak mengapa. Bagi saya menulis adalah mengungkapkan apa yang sedang saya rasakan dan sejenak ingin saya bagikan. Seperti kata pepatah yang saya juga lupa sumbernya, hidup terlalu sepi dan sombong untuk dihabiskan seorang diri. Dengan menulis, saya bisa sedikit membagikan apa yang saya alami dan apa yang saya miliki. Meski tiduk berwujud nyata secara materi, tapi saya berharap bisa sedikit memberikan manfaat. 

Kali ini saya tidak memiliki topik khusus untuk menulis sebenarnya. Saya hanya ingin menyapa diantara tulisan report internship dan thesis yang harus saya bereskan. Menuliskan keduanya cukup membutuhkan waktu dan pikiran saya cukup terkuras dengan 2 hal itu. Tapi saya sadari bahwa ini adalah sebuah proses. Proses untuk mencapai gelar yang lebih tinggi dan saya perjuangkan hingga harus meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabat saya di Indonesia. Pasti ada jalan dan waktu yang tepat akan sebuah pencapaian dari semua proses yang harus saya lewati. Itu yang saya percaya. Yang penting saya berusaha dan melakukan yang terbaik, masalah hasil itu urusan-Nya. bukan begitu? 

Yap, setelah tiga paragraf ini, sepertinya saya harus kembali fokus menulis dan mencari inspirasi untuk paragraf.paragraf selanjutnya. Jika nanti report dan thesis sudah beres, saya pasti akan bisa menulis lebih panjang lagi. Dan, semoga spring tahun ini akan lebih cantik juga manis daripada sebelumnya...:)  

September 5, 2012

Second year master

Summer holiday is over.......

Setelah masa libur yang cukup panjang, walaupun saya sendiri tidak libur, akhirnya tahun kedua harus dimulai. Sejak awal Juni lalu saya memang sudah tidak ada kuliah dan practical part internship telah berakhir. Alhasil saya mulai menulis report, menyiapkan presentasi, dan menulis essay sebagai thesis. Setelah menulis selama kurang lebih dua bulan dan revisi sana-sini dan selepas supervisor saya pergi berlibur, akhirnya terkoreksi juga. Acceptance report saya oleh sang profesor pun menjadi kado Lebaran yang sangat bermakna. Lega dan senang rasanya, sekarang tinggal menunggu waktu presentasi. Rentang yang cukup panjang saya rasa, mengingat saya telah menyelesaikan internship sejak Juni lalu dan baru akan mempresentasikan hasilnya di akhir September. Namun saya jalani saja, semoga hasil internship pertama ini memuaskan dan sebanding dengan usaha saya selama ini. Bersyukur rasanya karena separuh jalan telah dilalui dan satu tahun telah berlalu sejak hari itu saya masuk sebagai mahasiswa master Radboud University, Nijmegen. 

Kamis ini, saya akan masuk untuk internship kedua. Ada rasa yang bercampur-campur mengingat sudah 3 bulan lebih saya tidak masuk lab. Ada kerinduan juga dengan segala seluk beluk lab. Selalu ada euphoria tersendiri yang mencuat ketika memasuki lab dan bertemu dengan sel-sel dalam kultur. Mungkin karena sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan saya selama ini, jadi jika tidak masuk lab terasa ada yang hilang. Semoga besok hari pertama menjadi hari yang baik bagi saya dan perkenalan bagi sel-sel baru yang akan saya rawat. 

first internship report
Selain intrnship yang akan saya jalani selama kurang lebih 7 bulan kedepan, saya juga harus menyelesaikan course. Masih ada 3 course yang harus saya bereskan untuk memenuhi kredit sebagai master student. Semoga saja bisa dijalani dengan maksimal. Mengikuti kuliah di negeri orang memang sangat berbeda dengan apa yang sudah saya alami di Indonesia, apalagi di Eropa. Mengikuti course disini harus penuh imajinasi dan rasa ingin tahu, harus mampu mengembangkan logika disamping materi utama yang diberikan. Terkadang saya masih merasa kesulitan mengikuti perkembangan pola pikir di negara maju. Tapi dari apa yang saya pelajari di lab dan diskusi dengan profesor, saya merasa lebih bebas untuk berpendapat dan berekspresi. Disini sangat bebas mengemukakan pendapat dan tidak ada yang salah. Semua tergantung dari alasan yang mendasari dan bagimana logika bekerja. Inilah yang  saya rasakan sebagai master student, cukup berbeda ketika dulu duduk di bangku sarjana. Menyenangkan dan cukup menikmati. This is THE ART of BEING A MASTER STUDENT.
Bagi saya tiap sesi hidup itu ada seninya masing-masing dan tentu setiap orang menjalani dengan berbeda-beda. Itu pendapat saya, bagaimana dengan rekan-rekan sekalian?     

August 13, 2012

Dalam sebuah refleksi perjalanan

As we go on we remember...
All the time we had together.....

Waktu telah berlalu dan satu tahun sudah saya meninggalkan Jogja. Kota tempat saya dibesarkan, kota yang begitu penuh cerita untuk saya. 19 Agustus 2011, ketika pesawat GA 088 lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta dan membawa saya mendarat di Schiphol airport, NL, saat itulah semua mimpi saya untuk menuntut ilmu di Eropa terwujud. Mimpi dan harapan yang tertanam dalam diri saya sejak SMA dan terus menginspirasi saya hingga di bangku kuliah. Saya tidak pernah tahu apa yang seharusnya saya lakukan untuk mewujudkannya, semua berlangsung cukup cepat bagi saya dan hanya tuntunan-Nya yang bisa membuat langkah saya jelas menuju harapan besar itu. Saya hanya perlu percaya dan pasrah jalan mana yang terbaik untuk saya lalui. Dan hasilnya, sesuai dengan apa yang saya harapankan selama betahun-tahun lalu. 

Begitu menjejakkan kaki di tanah Eropa pun saya tidak tahu akan seperti apa hidup jauh dari orang-orang yang saya sayangi. Jauh dari orang tua yang telah membesarkan saya dan memberikan izin serta restunya untuk saya pergi. Namun, yang saya yakini Dia selalu ada, Dia tak pernah tidur dan akan selalu menuntun saya kapan pun di mana pun berada. Di Nijmegen ini saya pun menemukan keluarga baru, kehidupan yang baru, rutinitas baru yang selalu saya nikmati setiap momennya. Di sesi awal tinggal jauh dari keseharian sebelumnya memang cukup berat, saya hanya yakin bahwa saya bisa melaluinya dan bertahan hidup disini. Dan inipun terbukti, saya betah tinggal di kota kecil ini. Nijmegen yang menurut saya seperti Jogja, meski berbeda di setiap sudutnya. Selalu ada kerinduan yang saya rasakan ketika saya pergi traveling. Beberapa hari keluar dari Nijmegen membuat hati saya merasa ada yang kurang. Itulah sedikit gambaran kehidupan saya selama satu tahun ini. Kehidupan akademik saya pun juga mengalami pasang surut 

Sudah setengah jalan saya menempuh pendidikan S2 di Belanda. Dunia akademik di sini memang sangat berbeda dengan yang pernah saya alami di Indonesia. Pendidikan master saya cukup sedikit kuliahnya, lebih banyak riset yang dilakukan. Di tahun pertama saya menghabiskan 3 bulan pertama untuk kuliah full dan selanjutnya kuliah hanya di hari Jum'at disamping riset. Di tahun kedua nanti saya akan mengerjakan satu lagi riset dan mengikuti 3 kuliah. Bagi saya proporsi pendidikan seperti ini sangat nyaman, karena jujur saja saya kurang suka dengan kuliah di kelas dan berakhir dengan ujian. Menurut saya pendidikan itu harus dinilai dari prosesnya bukan hanya ujian di akhir. Jika prosesnya baik tentu hasilnya akan baik, jika prosesnya kurang maka hasilnya pun kurang memuaskan. Dalam riset yang saya lakukan inilah semua proses akan dinilai. Secara tidak langsung ini membuat saya lebih mengerti essensi setiap pendidikan yang telah saya tempuh sejauh ini. Bagaimana perbedaan menjadi bachelor student dan master student mulai jelas terasa. Saat saya mampu menemukan sendiri essensi apa yang saya lakukan sesungguhnya saat itulah titik balik bagi saya untuk menata langkah-langkah lebih lanjut sehingga outputnya akan baik adanya. Saya juga menyadari standar pendidikan master di Belanda itu tinggi. Untuk mendapatkan nilai yang memuaskan itu perlu banting tulang bagi mahasiswa internasional (*lebaydikit), tidak seperti yang saya alami dulu ketika di Indonesia. Masa transisi akademik saya sudah berlalu dan saya harus memiliki strategi agar dapat lulus disetiap mata kuliah yang saya ambil. 

Merangkum perjalanan satu tahun ini, saya merasa sangat bersyukur dan sangat beruntung atas kesempatan yang telah diberikan-Nya untuk saya. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah menggunakan setiap waktu saya di Eropa ini dengan sebaik-baiknya dan pulang ke Indonesia dengan mambawa ijazah master untuk saya persembahkan bagi orang tua saya dan bagi almamater saya. Jika masih ada izin-Nya, saya ingin mengabdikan apa yang saya miliki bagi almamater saya tercinta. 
Tak lupa terima kasih saya untuk teman-teman dan keluarga baru saya di Nijmegen yang selalu mensuport saya disetiap kesempatan. 







July 23, 2012

Rupa rasa Ramadhan di rantau

Ramadhan 1433 H, bulan yang senantiasa dianantikan oleh umat muslim diseluruh dunia. Pada tahun ini bulan Ramdhan jatuh pada musim panas, yang artinya, bagi muslim yang tinggal di bagian bumi utara akan mendapat waktu puasa yang lebih lama dibandingkan dengan muslim tinggal dekat dengan khatulistiwa. Dan inilah pengalaman saya menghabiskan Ramadhan di rantau. Meski baru menginjak hari ketiga dan belum tau apa yang akan terjadi ke depan, saya ingin saja berbagi apa yang saya rasakan dipermulaan bulan suci ini. 

Tadinya saya sempat gamang juga untuk menghabiskan bulan Ramadhan di sini, karena sejak awal tahun ibu saya sudah meminta saya untuk mudik summer ini. Namun berhubung saya merasa sulit menemukan tiket murah saat summer, maka saya tangguhan saja, dan saya putuskan untuk menghabiskan summer saya di Nijmegen. Tahun lalu saya mendapatkan 1 minggu terakhir puasa di Eropa dan ber-Idul Fitri disini. Sedih rasanya waktu itu, satu minggu menjelang Lebaran saya harus berpisah dengan keluarga dan orang-orang yang saya sayangi. Namun, demi cita-cita, saya kuatkan hati ini untuk melangkah, apapun adanya ini adalah mimpi saya. Ketika tahun ini saya harus menghabiskan Ramadhan dan Idul Fitri di sini saya merasa lebih kuat dan lebih tegar, menikmati satu tahun terakhir saya di Eropa. Tampaknya saya mulai betah tinggal di sini. 

Hari pertama bulan Ramadhan jatuh pada hari Jumat, 20 Juli 2012. Beberapa hari menjelang Ramadhan sekiranya biasa saja, tidak ada yang spesial. Saya menyadari benar bahwa suasana Ramdhan di sini akan sangat berbeda dengan yang biasa saya lewatkan di Indonesia. Sahur seorang diri di rumah tampaknya akan menjadi terbiasa. Beruntung jika ada yang mengundang atau mengajak buka bersama, ada teman berbagi lah. Namun jika tidak pun selalu berusaha untuk menikmati setiap detik bulan ini. Walau terkadang kangen juga dengan suasana di Jogja terutama, saat berbuka di tengah keluarga, berangkat tarawih, dan kerinduan saya pada Masjid Kampus UGM. Entah mengapa saya merasa sangat nyaman jika bisa tarawih di Maskam. Buka bersama dan silaturahmi dengan teman-teman yang jauh dan jarang bertemu juga senantiasa mewarnai hari-hari di bulan Ramdhan. Ya, tahun ini saya harus rela melewatkan moment Ramadhan di tanah air dan menikmati Ramdhan di rantau. Meskipun begitu semoga tidak mengurangi kebahagiaan menyambut bulan penuh berkah ini. Dan semoga orang tua saya tetap bisa menikmati Ramdhan tanpa saya, biasanya waktu sahur itu bertiga dan agak ramai, tapi sekarang sepi hanya berdua tanpa saya. Semoga kucing-kucing saya di rumah mampu memberikan keramaian tersendiri saat menikmati makan sahur.

Then which favor of your Lord will you deny..... 

February 13, 2012

Kontemplasi, Introspeksi, Visi, dan Misi

Judul postinganya cukup berat, namun isinya sangat ringan. Hanya ingin sedikit bercerita tentang hari jadi saya beberapa waktu lalu.

Hari jadi tanpa keluarga dan hadiah 2 tentamen dari kampus. Lengkap sudah rasanya, meski agak miris tapi semua itu tidak mengurangi kebahagiaan saya ketika beberapa tahun lalu di tanggal yang sama saya diijinkan untuk melihat indahnya dunia lewat rahim seorang Ibu terbaik yang diberikan-Nya untuk saya. Ibu yang selalu bisa menguatkan saya, menyemangati, memberikan nasehat yang membangun, dan mencurahkan tak terhitung kasih sayang diantara kesibukannya, serta melepaskan saya dengan segala keikhlasannya untuk melangkah ke Eropa. Tanpanya saya bukan siapa-siapa. Yup, itulah figur seorang Ibu dibalik segala "kesuksesan" yang bisa saya raih hingga detik ini. Ibu yang selalu saya banggakan. Saya merasa sangat beruntung dilahirkan dari keluarga sederhana namun penuh kasih sayang. Tak kurang pula kasih sayang dari ayah saya yang selalu menjadi pelindung dalam setiap langkah saya, memberikan perhatian yang selalu saya rindukan sekarang. Ayah yang selalu bisa menjadi tempat berbagi, berdiskusi, memberikan nasihat terbaiknya. Betapa bersyukurnya hati ini masih diberi kelengkapan sebuah keluarga, meski saya hanyalah putri tunggal. Saya sangat mengerti bahwa orang tua sangatlah berat melepaskan saya untuk pergi sampai Eropa. Saya pun sangat berterima kasih untuk kepercayaan yang telah diberikan untuk saya dalam meraih mimpi ini.

27 Januari lalu adalah hari jadi saya dan jatuh pada hari Jumat. Suhu di Nijmegen sudah mulai drop, maka saya memutuskan untuk ke kampus dengan bis. Saya berangkat pagi sekali karena hari itu ada 2 tentamen yang harus saya selesaikan. Semester ini saya hanya mengambil 2 mata kuliah karena hari lain saya harus menjalani internship. Dua tentamen dihari yang bersamaan sempat membuat saya agak drop, apalagi kesibukan di lab tidak dapat ditolerir. Selama satu minggu sebelum tentamen saya masih mengerjakan eksperimen-eksperimen besar yang cukup menguras tenaga. Tapi saya yakin kalau pasti bisa melalui ini selama saya mau berusaha dan belajar. Dua hari sebelumnya teman-teman juga mengadakan belajar bersama dan sangat membantu saya dalam belajar. Dan alhamdulillah saya bisa melalui dua tentamen meski sedikit terseok-seok.
my bench on my birthday
Di kampus sahabat dekat saya dari Yunani, Jerman, dan Iran pun memberikan ucapan dengan penuh kehangatan. Merasa beruntung teman-teman baru yang saya temui di sini sungguh baik-baik dan ramah. Mereka juga banyak membantu saya sehingga saya merasa lebih cepat merasa seattle. Tentamen berakhir saatnya kembali ke tampat favorit saya, bench 2, Tumor Immunology Lab, lt.5, NCMLS. 

tulpen on my bench
Jumat ini saya tidak punya eksperimen, jadi saya berencana untuk mengolah beberapa data yang bertebaran dan belum sempat saya analisis karena multitasking saya yang sangat berlebihan. Begitu datang, meja saya sudah berubah rupa. ada balon-balonnya dan ada 2 buket tulip. Whaatttt??? surprise sekali saya. ternyata teknisi dan supervisor saya yang menghadiahkan untuk saya. Wah, saya tidak menyangka akan ada kejutan seperti ini. Sudah lama sekali saya tidak menadapatkan balon ataupun buket bunga di ulang tahun saya. Senang rasanya diperhatikan supervisor saya..hehehe.. saya juga mendapatkan 2 buah CD Marco Bursato, penyanyi Belanda favorit saya. Benar-benar tak terduga, jadi terharu. Beberapa hari menjelang ulang tahun saya, supervisor sempat menanyakan saya kepingin hadiah apa. Pengin nyletuk hadiah suami..hehehe.. tapi kok ndak tega, akhirnya nyletuk aja mau tulip, kala musim dingin pula, mana ada gitu batin saya. Eh, ternyata ada beneran di meja saya. 
Sepulang dari lab, saya sebenarnya berencana untuk menginap di rumah keluarga Kak Sofi untuk merayakan bersama keluarga terdekat saya di Nijmegen. Namun saya batalkan niat tersebut dan menelpon flatemate saya dirumah. Ternyata mereka sedang berkumpul dan saya katakan saja saya akan pulang untuk memasak masakan Indonesia kesukaan mereka, nasi goreng. Mereka  juga bilang kalau akan memasak mie, batin saya itukan tradisi yang selalu ada ketika ada yang ulang tahun di keluarga saya.

Saya pun pulang dengan bis karena suhu cukup dingin dan saya merasa sangat lelah setelah ujian. Ketika menaiki tangga ke kamar saya di Berg en Dalseweg 18, saya dikejutkan dengan balon hello kitty yang cukup besar.
my flatmates and their surprise
Saya terharu dan berteriak, mereka yang sedang di dapur pun segera turun ke bawah dan memberikan ucapan penuh kehangatan. Mereka meminta saya membuka kado yang ada di bawah balonnya. Dan ternyata saya mendapatkan hello kitty lagi. Senang sekali rasanya memiliki flatmate yang sangat mengerti kesukaan saya. Malam itu pun saya memasak nasi goreng salmon dan kita menikmati mie sayur saus teriyaki dan merasa sangat kenyang.

Saya merasa sangat beruntung sekali meski jauh dari kehangatan keluarga saya, di hari jadi saya masih diberikan kenikmatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang baru di sekeliling dan memberikan kehangatan tersendiri di tempat yang jauh ini.
full of gifts... bedankt all...^^

Dan saya pun membuka kembali resolusi dan mimpi saya untuk melangkah di tahun 2012 dan usia yang baru. Menyusun kembali dan mereview apa yang akan dilakukan dan telah dilakukan. Terus memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi lebih bermanfaat untuk sesama. Semoga usia ini pun memberikan berkah karena hidup ini hanya sementara dan kita tak pernah tahu usia ini akan diakhiri oleh-Nya. Insya Allah...amin....


December 25, 2011

Reach..reach..reach...

Ketika membuka kembali buku harian saya yang telah menemani saya dalam setiap suka dan duka, saya menemukan sebuah tulisan di masa kuliah pada tahun 2008. Di tanggal yang berbeda saya menuliskan sesuatu yang mungkin sangat berkorelasi dengan yang saya alami sekarang ini. 

Pada 30 Mei 2008 saya menuliskan sebuah puisi yang salah satu bagiannya tertulis : 
 "Aku akan bertahan untuk mimpiku...Kan kulangkahkan kakiku dibawah Eiffel..Dan kurasakan hawa musim dingin di dadaku.... Kesabaran....Dan tunggulah aku datang..." 

snow from my window
Saat ini saya sudah benar-benar merasakan hawa musim dingin... Dalam 3 tahun mimpi itu pun terwujud..yang dibutuhkan adalah menunggu dengan penuh kesabaran. TUHAN TAU TAPI MENUNGGU... itu katanya Andrea Hirata...:) Meski ternyata musim dingin itu tidak seenak yang dibayangkan, namun saya bersyukur bisa menikmati musim dingin di Eropa..:)
first winter is always exciting

Satu minggu lalu pun saya bisa menikmati salju pertama saya... MY FIRST SNOW...!!! 
 



snowy Sunday, 18th December 2011
Sensasinya adalah..."whaaaa...saljuu...mimpi saya untuk menikmati salju eropa pun terwujud juga. Saljunya tidak menumpuk dan hanya sebentar, tapi saya cukup bahagia melihatnya. Apalagi ketika saya memandang dari jendela kamar saya. Inikah salju yang selama ini hanya ada dalam angan.angan saya. Dan sekarang bisa benar-benar saya nikmati.


Bright winter 2011 in Nijmegen
Saya sangat percaya bahwa harapan.harapan yang saya tuliskan dan saya bayangkan akan terwujud meski nampak mustahil pada awalnya, namun saya yakin ada kekuatan besar dari-Nya yang membuatnya terwujud, entah dengan cara bagaimana.


Dibagian lain buku harian saya ternyata saya menuliskan tentang sedikit kehidupan cinta saya yang tampak rumit di masa kuliah. Kehidupan cinta yang tidak sesuai dengan harapan saya, yang pada akhirnya hanya mengembalikan saya pada kekuatan mimpi yang saya miliki. Tertulis dengan jelas 
"Q jadi mikir..kenapa Q ngalami kisah cinta yang rumit si?? dulu Q harus nyomblangin..sekarang harus ngadepin orang yang super duper aneh, gak jelas, temen e cewek semua (mana bikin jealous). Fiuh..emang kayak e Q bakal bener-bener bisa punya cowok kalo uda lulus Profesi kali ya..trus ntar pas S2 di Prancis (ternyata Belanda) Q dilamar...wuaahhh..so sweet..di bawah Eiffel pula...sabar yah.. dan semoga Q masih diberi waktu sampe ke sana...insyaAllah...^^ " tertanggal 5 Juli 2008.
Untuk bagian yang ini saya akan bertahan dan menunggu jawaban dengan penuh kesabaran..semoga bagian mimpi ini akan terwujud juga. Semua pasti ada waktunya, bukan begitu ???

December 10, 2011

Under the moonlight

Saya dengar dari berita bahwa saat ini sedang terjadi gerhana bulan. Ini adalah gerhana bulan terakhir sebelum kita bisa melihat gerhana bulan kembali tiga tahun dari sekarang. Beruntunglah rekan.rekan yang berada di daerah Asia karena bisa menyaksikan dengan mata telanjang. Bagi saya sendiri yang berada di dataran Eropa yang saya lihat beberapa jam lalu bukan gerhana, namun bulan purnama. Satu kata yang terlontar ketika saya melihat ke arah timur laut...

Wow!!!

Subhanallah...bagus banget bulannya. Kemarin sepulang saya dari lab saya juga dibuat terkesima oleh indahnya bulan. Bersyukur sekali karena 2 malam ini langit di atas kota Nijmegen cerah walau ada mendung namun tak menghalangi keindahan pancaran kemilau sang bulan. Entah mengapa saya selalu senang melihat bulan, apalagi kalau di hitamnya langit saya juga bisa menemukan bintang.bintang. Seolah ada energi yang tiba-tiba mengalir ketika saya mendongak ke langit dan melihat cahaya-cahaya cerah itu. Ada harapan yang saya gantungkan di sana dan dekat dengan Sang Pencipta, membuatnya selalu terngiang dan harus diwujudkan. 

Jujur saja, di tulisan ini saya tidak mempersiapkan apa-apa. Tiba-tiba saja saya ingin berbagi tentang keindahan bulan yang saya rasakan di langit Belanda. Namun tiba-tiba saya ingin sedikit berintrospeksi, seperti tema status BB saya bulan ini, DECEMBER : introspection and resolution.

Ya, tak terasa sudah jauh saya melangkah. Waktu berlalu begitu cepatnya hingga 2 musim telah saya lalui. Separo musim panas, musim gugur, dan sekarang awal musim dingin. Pergantian yang cukup cepat bagi saya karena di Indonesia saya hanya mengenal 2 musim sedangkan di sini gado-gado musimnya, bervariasi. Dan tak jarang suasana hati mengikuti pergantian musim...:P
Dan sudah selama itu pula saya tinggal sendiri. Hidup di negeri orang memang membutuhkan mental yang tahan banting, harus mau mandiri dan mengatur semuanya sendiri. Saya tidak memungkiri bahwa di bulan-bulan pertama saya sering sekali menangis dan tangis itu mengalir begitu saja tanpa disadari. Masa transisi memang tak pernah nyaman. Namun untuk mencapai zona nyaman mau tidak mau harus melalui masa itu. Yang saya yakini adalah masa ini hanya sebentar, tak akan lama. ketika sudah bisa menemukan "titik cling" nya maka semua akan terasa lebih mudah. Tak lupa doa adalah cara paling mujarab untuk mengatasi smua kesulitan itu, lebih dekat dengan Sang Penuntun maka jalan ini akan lebih mudah untuk dilewati. Ternyata saya pun bisa bertahan sampai sekarang. 

Perasaan sepi pun terkadang datang menyapa saat sendiri dan membuat virus galau dengan mudahnya menghantam pertahanan hati yang sudah dikuat-kuatkan. Menurut saya hal itu wajar-wajar saja, asal tidak sering dan sampai mengganggu kegiatan sehari-hari Ketika perasaan itu datang pun saya menerimanya, namun ketika sudah terbawa itu perlu ditangani dengan cara melakukan kegiatan yang disukai, misalnya jalan-jalan..:) sedikit bnyak dengan melihat dunia luar maka akan ada energi baru yang datang. 

Merasa jenuh dengan rutinitas kuliah pun pernah saya alami. Kuliah dengan bahasa inggris memang tidak mudah. Terkadang ada dosen yang menjelaskan kuliahnya begitu cepat, ada yang bahawa inggrisnya kurang jelas, ada yang suaranya kecil sekali, pokoknya karakter dosennya juga bermacam-macam. Tampaknya mahasiswa indonesia sudah dibekali kretivitas untuk menangani maslah-masalah yang berkaitan dengan kuliah. Kalu sudah mentok begini akahirnya saya meminjam catatan teman dekat saya, foto copy, membuka bahan kuliah sang dosen, dan nongkrong berjam-jam di perpus. barulah setelah beberapa lama pencerahan itupun datang juga. Kalau masih belum paham juga biasanya saya mengajak teman untuk berdiskusi. Syukurlah teman-teman international saya ternyata senasib dengan apa yang saya rasakan, sehingga kami pun bisa belajar bersama dan memahaminya bersama-sama. Dan ketika saat ini saya sudah memulai internship saya, tugas pun semakin meningkat. Sehari-hari saya berangkat pukul 8.30 dan pulang pukul 5.30. Jadwal yang sangat padat dan cukup melelahkan. Tugas saya di internship kali ini  berada dalam bidang Tumorimunologi. kedengarannya saja amat sulit, namun bagi saya yang begitu mencintai bidang inii, sesulit apapun pasti akan ada jalan. Dalam 6 bulan ke depan saya akan mendalami masalah-masalah penelitian pre-klinik dalam bidang Tumorimunologi. Saya akan banyak bekerja dengan hewan percobaan dan beberapa pekerjaan selama kultur. Dua bagian yang cukup berbeda, tapi inilah yang saya sukai. Maka, saya nikmati saja semua proses ini karena saya yakin di depan sana akan ada sesuatu yang besar yang akan saya raih. 

Mungkin tulisan ini tidak terlalu berkorelasi dengan berbagai tulisan saya yang lain. Saya hanya teringat pemikiran dan introspeksi yang saya alami saat mengayuh sepeda saya dibawah cahaya bulan purnama



October 1, 2011

Creating a new life

Rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Penuntun. Tanpanya tiada bisa saya lalui hari-hari di sini dengan lebih ringan. 

Alhamdulillah sudah satu bulan saya lalui waktu di Nijmegen, Netherland. kegiatan harian sudah berjalan dan lancar. Secara kseluruhan dapat saya katakan bhawa kehidupan di sini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, terutama sebagai anak kost..^^ (tapi kost di sini elit dan semua sudah tersedia, enak lah..:P). Makanan juga bukan masalah kalau bisa masak..:)

Saya ceritakan sedikit kehidupan sehari-hari di Eropa. 

minimalis, empuk, nyaman
Sama halnya ketika di Indonesia, saya bangun pukul 5.00 untuk sholat subuh. Selepas sholat subuh saya biasanya mandi jika kuliah dimulai pukul 8.30 atau tidur lagi sebentar jika kuliah agak siangan. Disini jam 6 pagi masih sangat gelap gulita. Matahari baru akan menampakkan wajahnya selepas pukul 6.30. Itupun masih cukup gelap menurut saya.
dedek Leno jadi teman setia
 Anyway, saya ceritakan seikit tentang tempat tinggal saya yang terletak di Berg en Dalseweg 18, Nijmegen, Netehrland. Disini saya tinggal di student kompleks, kebetulan saya dapat kompleks dengan penghuni yang lebih sedikit. Kamar saya terletak di lantai 1, tidak besar seperti kamar-kamar lain tapi saya sangat merasa hoomy. Flatemate saya ada 3 orang perempuan dan semuanya berasal dari Turki. Banyak yang saya syukuri dapat tinggal di room ini. Saat pertama memasuki room saya merasa sangat nyaman dengan susananya, seperti room yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Makanya saya sangat surprise meendapati room ini. Semoga saya akan nyaman sampai lulus nanti.

Dapur kinclong
Berbicara soal makanan, menu saya di sini masih tetap seperti di Indonesia, NASI. Kalau tidak diSEGAni tuh rasanya ada yang kurang mantab..:P Masakan saya simpel-simpel saja dan cepat matang seperti tumis, sup, cha, goreng tempe, dan berbagai cita rasa masakan jawa lainnya. Saya selalu berganti menu masakan tiap harinya dan alhamdulillah masakan saya ternyata enak juga..gak kalah lah sama ibu saya dan chef kawakan..:P. Masak sendiri langsung dimakan sendiri. Biasanya bersama sarapan saya berskype ria dengan orang tua saya di Indonesia. Inilah yang membuat saya tidak terlalu kesepian atau sangat kangen dan ingin pulang. Saya selalu mengontak keluarga setiap hari dan bercerita kehidupan saya di sini.

PINKY menemani 3 minggu
Selesai sarapan saya pun mengayuh sepeda saya ke kampus. Perjalanan bersepeda ke kampus saya tempuh selama kurang lebih 20 menit. Kebetulan flat saya agak jauh dari kampus dan sangat dekat dengan Centrum (pusat kota). Meski jauh dan jalannya agak menanjak tapi saya masih sanggup kok, ya untuk olah raga lah. Kampus saya terletak di Hayendaalseweg, Faculteit der Natuurwetenschappen, Wiskunde en Informatica, Radboud University Nijmegen. Program saya adalah Master in Medical Biology dan saya adalah orang kedua dari Indonesia yang belajar diprogram tersebut. Agak susah juga si jadi single fighter. Tidak seperti di Indonesia yang mudah menemukan kakak kelas yang bisa memberikan bimbingan dan pinjaman buku atau bahan kuliah. Namun, bagi saya itu bukan masalah yang besar karena saya yakin akan ada jalan.

FNWI, Radboud University Nijmegen
Pada semester pertama ini, kuliah saya tidak begitu padat. Saya harus menempuh master course sebanyak 18 ects (kalau di Indonesia SKS) dan sisanya adalah Internship dan free course hingga 120 ects untuk mencapai Master of Science (M.Sc) hingga 2 tahun kedepan. Internship akan saya lakukan 2x yaitu di salah satu departement di NCMLS, Donder Institute, atau UMC Radboud. Saya pun memilih department Tumoimmunology di NCMLSsebagai tempat internship saya selama 6 bulan dimulai Desember 2011 (semoga masih bisa traveing saat libur natal dan tahun baru..:P). Sepulang kuliah biasanya mampir dulu di bibliothek untuk belajar atau sekedar mendapatkan bahan kuliah (power point). Selama 3 kuliah yang saya tempuh, saya merasa mampu mengikuti. Dosen saya disini juga baik dan sangat membantu international student seperti saya. Semoga saja kuliah terus lancar hingga akhir.

we are international students
 Hal pertemanan yang sempat membuat saya merasa khawatir ketika di Indonesia, alhamdulillah tidak saya alami. Sejak sebelum datang saya sudah diperkenalkan dengan komunitas muslim di Nijmegen (KEMUNI). Saya banyak terbantu dan memiliki keluarga baru. Saya juga mengenal teman-teman dari PPI Nijmegen, meski kebanyakan dari mereka masih bachelor, tapi seru juga jalan bersama mereka. Untuk teman sekelas saya, sampai saat ini saya lebih dekat dengan teman international daripada yang dari Belanda sendiri. Teman dekat saya berasal dari Yunani namanya Polina. Teman international yang lain ada Freya dari Jerman serta Senan dari Paris, semoga kami berempat bisa ke Paris bersama beberapa weekend kedepan.
nice trip to Delft
Selain itu saya juga mengenal beberapa teman lain dari Itali, China, India, dan Ukraina. memiliki teman-teman international sangatlah menyenangkan. Meski speaking english saya masih blum baik tapi saya senang bisa mengenal mereka. Saya sering jadi bulan-bulanan kalau sedang kumpul dengan teman-teman Indonesia, dibilangnya English saya medok...lha mau gimana lagi..>.< saya orang jawa dan tinggal di jogja, kalau tidak medok ya aneh. Saya si tidak tersinggung malah senang karena ada yang memperhatikan dan malah menjadi guyonan yang membuat saya lebih nyaman menjalini pertemanan.


Secara umum begitulah kehidupan sehari-hari saya di Belanda. Saya merasa nyaman dan betah sejauh ini dan alhamdulillah shock culture masih bisa tertangani dengan baik..^^






September 4, 2011

Suickerfest

Sedikit menengok perjalanan bulan Ramadhan yang telah berlalu di pertengahan tahun 2011. Kali ini saya ingin bercerita penghujung Bulan Suci yang saya habiskan di kota kecil ini, Nijmegen.
Ramadhan 2011, menurut saya cukup spesial meski saya tidak memungkiri bahwa saya merasa berat karena dipertengahan saya akan meninggalkan suasana kehangatan merayakan Ramadhan di Indonesia. Di awal bulan saya berusaha untuk menikmati setiap detik waktu saya dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Saya ingin membuat kenangan yang tak terlupakan pada Ramadhan kali ini. Dan tampaknya rencana saya pun berhasil.  

19 Agustus 2011 saya pun harus benar-benar ikhlas untuk melangkah ke tempat yang baru. Sebelumnya saya tidak pernah jauh dari keluarga saat menghabiskan bulan Ramadhan. Bersama dengan keluarga saya selalu merasa nyaman dan penuh kehangatan, saya juga merasa lebih khusyuk dalam beribadah. Saya juga belum bisa membayangkan berlebaran tanpa keluarga terdekat saya. Pikiran itu sempat menggelayuti saya ketika dalam perjalanan. Akan seperti apa Lebaran saya tahun ini?? 

Saat hari itu tiba, saya merasa sangat bersyukur, karena ternyata Lebaran saya disini tidaklah sesedih yang saya bayangkan, meski saya sempat khawatir tidak bisa merayakan Lebaran karena jadwal kuliah. Yap, 30 Agustus 2011, akhirnya saya bisa merasakan berlebaran di negeri orang. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, Lebaran saya rayakan bukan di kota kelahiran saya, Magelang namun di Nijmegen, Netehrland. Sesuatu yang tidak pernah terbesit dalam pikiran saya. 
Hari itu cuaca tidak begitu bersahabat, saat saya berangkat ke tempat shalat Ied di rumah tante Evi, uda begitu dingin dan sedikit mendung. Saya pun pergi bersama rekan-rekan pelajar Indonesia muslim yang ada di Nijmegen. Alhamdulillah, di Nijmegen ini ada komunitas muslim yang bernama Kemuni (Keluarga Muslim Nijmegen). Saya merasa sangat beruntung, seorang rekan pelajar bernama Leequisach Panjaitan telah mengajak saya bergabung dengan Kemuni. Di Kemuni lah saya mengenal keluarga Bang Ary Samsura yang telah banyak membantu saya. Saya juga diperkenalkan dengan Mb Tatik yang senantiasa membantu saya untuk beradaptasi, dan rekan-rekan pelajar muslim lain. Saya benar-benar merasa memiliki keluarga baru di sini, merasakan tempat berbagi, selayaknya saya saat di Jogja. Saya juga banyak belajar bertahan hidup dari rekan-rekan Kemuni.

Perjalanan ke rumah Tante Evi dan Oom Indra ditempuh dengan bus selama 20 menit, cukup jauh memang. Setibanya di rumah Tante Evi, suara takbir kemenangan telah terdengar. Tak terasa, air mata saya pun menetes begitu saja, saya ingat sesi-sesi Lebaran yang selalu saya habiskan di Magelang, sungkem dengan Eyang saya, Bapak-Ibu, dan berkumpul bersama keluarga besar saya. Sungguh saya sangat merindukan momen-momen tersebut. Namun kemudian saya tersadar bahwa yang saya alami saat ini adalah bagian dari nikmat Allah SWT. Saya berusaha untuk menegarkan diri. Tak terduga, di rumah Tante Evi, saya bertemu dengan seorang rekan pelajar yang jauh-jauh datanag dari Arnhem, dan saat mengobrol ternyata kita adalah tetangga di Magelang. Subhanallah...terima kasih Ya Allah telah mempertemukan saya dengan Mbak Indri. Kami pun bercerita tentang Lebaran yang selalu dihabiskan di Magelang dan sedikit banyak kerinduan saya pun terobati. 

Shalat Ied pun dimulai dan selepas shalat dibacakan khutbah Idul Fitri. Trenyuh sekali hati saya dengan khutbah yang dibawakan oleh Pak Yusuf. Khutbah tentang bulan Ramadhan dan bagaimana seharusnya seseorang yang telah berpisah dengan Bulan Suci. Selesai khutbah diadakan Halal bi halal dengan bersalam-salaman. Di sini lah air mata saya benar-benar tak terbendung. Saya menangis tanpa tau apa sebabnya. Saya menangis dan benar-benar menangis sampai beberapa rekan Kemuni heran melihat saya menangis. Mungkin karena ini adalah Lebaran terjauh yang saya rayakan dan kesedihan saya harus berpisah dengan Ramadhan. 
Namun, saya bahagia, ternyata di Lebaran kali ini saya masih bisa merasakan nikmatnya ketupat dan opor, mencicipi hidangan-hidangan Indonesia sperti rendang, sambal goreng, camilan onde-onde, kue-kue khas Lebaran, sehingga kerinduan saya pun dapat berkurang. Ya, di kota ini paling tidak saya masih bisa menemukan makanan-makanan yang tidak jauh dari lidah Indonesia. Yang jauh lebih penting adalah saya memiliki keluarga muslim yang menjadi keluarga kedua bagi saya. 

Semoga Ramadhan telah menjadikan kita semua insan yang lebih bertakwa yang sejalan dengan tujuan puasa yang disampaikan dalam QS. Al Baqarah 183. Amin. amin. Ya Rabbal'alamin...

Inna ngaturaken sugeng riyadi.. sedaya lepat, kulo nyuwun pangapunten. sungkem kulo kagem Eyang, Bapak, ugi Ibu kulo Wonten magelang lan Jogja

August 26, 2011

The Opening

Perjalanan panjang JOG-AMS benar.benar membuat saya sangat lelah. Namun saya cukup senang bisa menginjakkan diri di tanah Eropa ini..^^ 
Petualangan di negeri orang akan segera dimulai. Semoga Allah SWT senantiasa menunjukkan jalan dan memberikan bimbingan. 
Setibanya saya di Schiphol, Amsterdam saya dijemput oleh 3 orang. Budhe saya yang kebetulan tinggal di Enschede, seorang kolega budhe saya dari jakarta, Om Hasjrul, dan seorang rekan KEMUNI, kak Leequisach (kak Lee). Saya sempat agak bingung waktu di bandara. Beberapa saat menunggu mereka saya tidak bertemu dan saya pun mengirimkan sms kepada masing-masing dan akhirnya menemukan saya. 

Kak Lee lah yang akan membawa saya ke Nijmegen. Maka saya pun berpisah dengan Budhe dan Om Hasjrul. Perjalanan Amsterdam-Nijmegen akan ditempuh dengan kereta selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Di dalam kereta kak Lee bercerita vanyak tentang kehidupannya di Nijmegen, saya pun bisa bnyak belajar darinya dan mendapat gambaran bagaimana kehidupan saya nanti. Setibanya kereta di Nijmegen, saya diantar ke rumah kak Sofi, dan disitulah saya akan menginap beberapa hari sampai saya mendapatkan kamar saya.
dalam kretanya
Ams-Nij
 di rumah kak Sofi saya disambut dengan hangat. Sore itu juga ada undangan buka bersama KEMUNI (Keluarga Muslim Nijmegen) di rumah mbak Fina. Sebelumnya kak Sofipun mengajak saya ke supermarket di dekat rumahnya untuk mambeli beberapa kebutuhan. Kak Sofi pun mengajari saya bermacam-macam hal, dari mulai belanja kebutuhan, mencari diskon-diskon, mencari daging halal, tata cara bersepeda di Belanda,dan masih banyak lagi.
Den Bosch station
my destination










Saya pun mengawali pengalaman saya bersepeda di Belanda. sangat menyenangkan dan udaranya segar. Hal pertama yang saya rasakan adalah "It was soooooo sweeeeettt" hmmm.. Saya jadi berpikir, semoga ada seseorang yang menemukan saya, mengajak bersepeda, dan memberikan sebuket bunga. *mulaidehhhh..:P imajinasi terbodoh saya..^^
bersepeda di hari pertama..^^

Buka puasa di Belanda adalah pukul 8.45, karena saat summer siang lebih panjang dan malamnya lebih pendek. KEMUNI sangat ramah dan saya sebagai orang baru merasa sangat nyaman bisa berkenalan dengan komunitas ini karena saya merasa memiliki keluarga baru. orang Indonesia kalau di negeri orang kan kekeluargaannya kental. Saya merasa sangat terbantu dalam proses penyesuaian dengan lingkungan.

Hari-hari pertama saya di sini sangat terbantu dengan hadirnya keluarga Indonesia. Hari Senin saya diantarkan mbak Tatik ke kampus dan menemukan kost saya. Ternyata dorm saya agak jauh dari kampus namun sangat dekat dengan pusat kota (Centrum). Saya diajak berkeliling dan diajari cara berbelanja di Centrum.
Hari selasa tampaknya kurang mendukung, sepanjang pagi sampai siang awan mendung dan hujan deras menyelimuti langit Nijmegen, maka saya pun hanya tinggal di rumah kak Sofi. Baru sorennya saya membawa barang-barang saya ke dorm. 
Hari Rabu saya bertemu dengan koordinator program saya dan mendapati bahwwa jadwal saya akan sangat padat 4 bulan ke depan, saya akan kuliah dan menyelesaikan master course dahulu baru kemudian riset. Semoga saya bisa melalui semuanya denga lancar. 
Hari Kamis saya bertemu dengan koordinator beasiswa, Mrs. Haarhuis, dia sangat baik dan berusaha untuk mamandu penerima beasiswa sehingga dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Hari itu juga saya bertemu seorang teman penerima beasiswa yang sama dengan saya dan berasal dari China, namanya Yuan. Wah..semakin menambah teman internasional saja..^^