September 4, 2011

Suickerfest

Sedikit menengok perjalanan bulan Ramadhan yang telah berlalu di pertengahan tahun 2011. Kali ini saya ingin bercerita penghujung Bulan Suci yang saya habiskan di kota kecil ini, Nijmegen.
Ramadhan 2011, menurut saya cukup spesial meski saya tidak memungkiri bahwa saya merasa berat karena dipertengahan saya akan meninggalkan suasana kehangatan merayakan Ramadhan di Indonesia. Di awal bulan saya berusaha untuk menikmati setiap detik waktu saya dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Saya ingin membuat kenangan yang tak terlupakan pada Ramadhan kali ini. Dan tampaknya rencana saya pun berhasil.  

19 Agustus 2011 saya pun harus benar-benar ikhlas untuk melangkah ke tempat yang baru. Sebelumnya saya tidak pernah jauh dari keluarga saat menghabiskan bulan Ramadhan. Bersama dengan keluarga saya selalu merasa nyaman dan penuh kehangatan, saya juga merasa lebih khusyuk dalam beribadah. Saya juga belum bisa membayangkan berlebaran tanpa keluarga terdekat saya. Pikiran itu sempat menggelayuti saya ketika dalam perjalanan. Akan seperti apa Lebaran saya tahun ini?? 

Saat hari itu tiba, saya merasa sangat bersyukur, karena ternyata Lebaran saya disini tidaklah sesedih yang saya bayangkan, meski saya sempat khawatir tidak bisa merayakan Lebaran karena jadwal kuliah. Yap, 30 Agustus 2011, akhirnya saya bisa merasakan berlebaran di negeri orang. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, Lebaran saya rayakan bukan di kota kelahiran saya, Magelang namun di Nijmegen, Netehrland. Sesuatu yang tidak pernah terbesit dalam pikiran saya. 
Hari itu cuaca tidak begitu bersahabat, saat saya berangkat ke tempat shalat Ied di rumah tante Evi, uda begitu dingin dan sedikit mendung. Saya pun pergi bersama rekan-rekan pelajar Indonesia muslim yang ada di Nijmegen. Alhamdulillah, di Nijmegen ini ada komunitas muslim yang bernama Kemuni (Keluarga Muslim Nijmegen). Saya merasa sangat beruntung, seorang rekan pelajar bernama Leequisach Panjaitan telah mengajak saya bergabung dengan Kemuni. Di Kemuni lah saya mengenal keluarga Bang Ary Samsura yang telah banyak membantu saya. Saya juga diperkenalkan dengan Mb Tatik yang senantiasa membantu saya untuk beradaptasi, dan rekan-rekan pelajar muslim lain. Saya benar-benar merasa memiliki keluarga baru di sini, merasakan tempat berbagi, selayaknya saya saat di Jogja. Saya juga banyak belajar bertahan hidup dari rekan-rekan Kemuni.

Perjalanan ke rumah Tante Evi dan Oom Indra ditempuh dengan bus selama 20 menit, cukup jauh memang. Setibanya di rumah Tante Evi, suara takbir kemenangan telah terdengar. Tak terasa, air mata saya pun menetes begitu saja, saya ingat sesi-sesi Lebaran yang selalu saya habiskan di Magelang, sungkem dengan Eyang saya, Bapak-Ibu, dan berkumpul bersama keluarga besar saya. Sungguh saya sangat merindukan momen-momen tersebut. Namun kemudian saya tersadar bahwa yang saya alami saat ini adalah bagian dari nikmat Allah SWT. Saya berusaha untuk menegarkan diri. Tak terduga, di rumah Tante Evi, saya bertemu dengan seorang rekan pelajar yang jauh-jauh datanag dari Arnhem, dan saat mengobrol ternyata kita adalah tetangga di Magelang. Subhanallah...terima kasih Ya Allah telah mempertemukan saya dengan Mbak Indri. Kami pun bercerita tentang Lebaran yang selalu dihabiskan di Magelang dan sedikit banyak kerinduan saya pun terobati. 

Shalat Ied pun dimulai dan selepas shalat dibacakan khutbah Idul Fitri. Trenyuh sekali hati saya dengan khutbah yang dibawakan oleh Pak Yusuf. Khutbah tentang bulan Ramadhan dan bagaimana seharusnya seseorang yang telah berpisah dengan Bulan Suci. Selesai khutbah diadakan Halal bi halal dengan bersalam-salaman. Di sini lah air mata saya benar-benar tak terbendung. Saya menangis tanpa tau apa sebabnya. Saya menangis dan benar-benar menangis sampai beberapa rekan Kemuni heran melihat saya menangis. Mungkin karena ini adalah Lebaran terjauh yang saya rayakan dan kesedihan saya harus berpisah dengan Ramadhan. 
Namun, saya bahagia, ternyata di Lebaran kali ini saya masih bisa merasakan nikmatnya ketupat dan opor, mencicipi hidangan-hidangan Indonesia sperti rendang, sambal goreng, camilan onde-onde, kue-kue khas Lebaran, sehingga kerinduan saya pun dapat berkurang. Ya, di kota ini paling tidak saya masih bisa menemukan makanan-makanan yang tidak jauh dari lidah Indonesia. Yang jauh lebih penting adalah saya memiliki keluarga muslim yang menjadi keluarga kedua bagi saya. 

Semoga Ramadhan telah menjadikan kita semua insan yang lebih bertakwa yang sejalan dengan tujuan puasa yang disampaikan dalam QS. Al Baqarah 183. Amin. amin. Ya Rabbal'alamin...

Inna ngaturaken sugeng riyadi.. sedaya lepat, kulo nyuwun pangapunten. sungkem kulo kagem Eyang, Bapak, ugi Ibu kulo Wonten magelang lan Jogja

No comments:

Post a Comment