Menuju Pe-ha-de bag.2
Menuliskan
mimpi adalah hal yang selalu saya lakukan agar mimpi itu segera menjadi nyata.
Begitu pula dengan melanjutkan S3, setelah menuliskan “Road to PhD 2015”
besar-besar di dinding kamar saya, selanjutnya adalah berpikir bagaimana
mewujudkan mimpi ini.
Saat
itu kurang lebih 3 bulan setelah saya kembali ke Indonesia. Saya sebenarnya
disarankan orang tua untuk mendaftar menjadi dosen (staf pengajar) di Fak.
Farmasi UGM. Profesor saya pun menyarankan untuk mendaftar dulu sebagai dosen,
meskipun saat itu memang belum ada pengumuman lowongan.
Namun,
hati kecil saya berkata, untuk tetap fokus pada cita-cita S3. Langkah pertama
yang saya tempuh waktu itu adalah mencari lowongan PhD employee melalui laman AcademicTransfer.nl. Saya mencoba
mencari lowongan yang cocok dengan minat saya. Dalam waktu sekitar 3 bulan saya
melamar pada 8 proyek berbeda di universitas berbeda, namun masih di Belanda.
Dari semua lamaran itu akhirnya hanya satu yang merespon saya, dengan proyek di
bidang Tumor Immunology, bidang studi
yang menjadi impian saya, karena saya punya bayangan, setelah menyelesaikan S3
akan menjadi dosen Imunologi.
Saya
mendapat panggilan untuk wawancara via Skype.
Dengan modal koneksi di Indonesia yang agak kurang bersahabat dengan video call maka saya meminta wawancara
dilakukan dengan voice call saja.
Singkat cerita, 2 minggu setelah wawancara saya mendapat kabar jika sang supervisor memilih kandidat lain untuk
menjadi PhD employee. Saya mengerti,
biasanya proyek seperti itu dilamar oleh sekitar 60-70 calon PhD sedangkan
nantinya hanya aka nada 1-2 kandidat yang terpilih.
Di
awal tahun 2014, saya pun mendapat jawaban juga atas pertanyaan posisi dosen di
almamater dan sepertinya belum rejeki saya untuk mengabdi. Saya cukup kecewa
dan tidak punya rencana cadangan. Namun, saya tetap masih ingin melanjutkan
sekolah lagi. Profesor saya pun masih tetap memberikan semangat agar saya
mencoba mencari lowongan dosen dan disamping melanjutkan S3.
Menghadapi
kegagalan demi kegagalan di awal tahun 2014 cukup membuat semangat saya
menurun. Cita-cita untuk segera kembali ke Belanda memang belum saatnya.
Mungkin Yang Kuasa punya rencana lain untuk saya. Maka saya pun bersabar dan
mencoba mencari lowongan dosen di tempat lain dengan tidak melupakan usaha
mendapatkan posisi S3.
Hingga
saya dikontak oleh seorang senior ketika S1 dulu. Beliau menyarankan saja untuk
mengontak salah satu dosen di Fak. Kedokteran UGM yang notabene fokus juga
untuk studi Cancer Biology. Walaupun
saya sebenarnya lebih ingin ke Tumor Immunology
namun tak apalah saya coba untuk mengontak, siapa tahu ada lowongan untuk
menjadi asisten peneliti. Paling tidak saya punya kegiatan sambil masih mencari
lowongan S3. April 2014 akhirnya menjadi hari pertama saya bekerja sebagai
asisten peneliti di Bagian Histologi dan Biologi Sel, Fak. Kedokteran UGM.
Harapan saya waktu itu, semoga dengan menjadi asisten peneliti ini bias menjadi
batu loncatan saya untuk nantinya menjadi dosen selepas saya sekolah S3.
Sambil
bekerja sebagai asisten peneliti, saya mengubah strategi untuk mendapatkan
posisi S3. Setelah pertimbangan dan diskusi yang agak a lot dengan orang tua,
saya pun memutuskan untuk mencari supervisor
dan melamar beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Pencarian pun dimulai dari sini.
No comments:
Post a Comment