Menuju PehaDe
bag.3
Ternyata
menulis itu memang membutuhkan bnyak tenaga dan waktu. Benar saja, sejak saya
mulai masuk lab seri menuju Pehade
ini sempat mandek. Menjadi mahasiswa S3 di Belanda, sudah jangan ditanyakan
lagi bagaimana naik-turunnya. Sebulan terakhir ini saya selalu pulang lebih
dari jam 6 sore, sekedar untuk eksperimen ataupun cek-ricek jurnal. Itupun
rasanya waktunya selalu kurang karena ada banyak bahan riset yang harus saya
baca. Okee..lupakan sejenak tentang #PhDlife dan mari menengok kembali
perjalanan menuju kesana.
Well, mencari supervisor yang baik dan mampu membimbing dengan
minat riset yang cocok ternyata bukan perkara yang mudah juga. Fakta di
lapangan menunjukkan bahwa tidak semua supervisor itu bisa membimbing
mahasiswanya ke “jalan yang benar”, sedikit banyak otoriter, atau malah tidak
peduli dengan mahasiswanya karena terlalu sibuk. Jika supervisor utama adalah
seorang professor, biasanya diskusi proyek akan jarang dilakukan, sebulan 2x
itu sudah cukup baik. Sehingga untuk diskusi teknis di lab sedikit banyak akan
diberikan kepada postdoc atau associate professor. Nah, kelemahannya
adalah untuk tahun-tahun awal kalau tidak dipantau secara serius oleh
supervisor, akan sangat mudah untuk mahasiswa melenceng dan tidak fokus dari
rencana awalnya. Sehingga, menurut pengalaman saya bimbingan dan arahan
supervisor di tahun pertama itu sangat krusial dan tidak bisa disepelekan,
meskipun si mahasiswa adalah murid yang pintar. Fakta lain, tidak jarang supervisor
yang baik ditemukan, topik riset cocok, tapi sedang tidak ada posisi yang
kosong untuk mahasiswa S3.
Pencarian supervisor ini bagi saya membutuhkan
waktu yang cukup lama. Mulai dari mengontak supervisor
ketika S2 sampai mencari di kampus lain. Untuk topik, sebenarnya saya lebih
condong ke Tumor Immunology. Namun,
tidak banyak kampus yang memiliki pakar di bidang ini. Maka saya pun tidak
menutup kemungkinan akan beralih topik, selama itu masih tentang Cancer Biology akan saya ambil. Setelah
pencarian ke 8-10 orang profesor, PI, atau senior
researcher, akhirnya saya pun diajak untuk Skype meeting dengan seorang junior
PI dari UMC Groningen dengan topik epigenetic
of pediatric brain cancer. Betapa senangnya saya saat itu karena pencarian
saya akhirnya membuahkan hasil. Diskusi dan pertemuan pertama saya dengan
Dr.SWM Bruggeman via Skype terjadi 20
Agustus 2014, hampir satu tahun sejak saya kembali ke Indonesia. Singkat
cerita, saya pun menyampaikan ide riset dan keinginan untuk mendaftar beasiswa
dari Indonesia, karena saya ingin kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S3
dan menjadi dosen di almamater UGM. Beliaupun setuju dengan usulan saya dan
dimulailah semua proses pendaftaran beasiswa.
Saya pun
mendaftar beasiswa LPDP pada November 2014 dengan harapan jika diterima, pada
bulan September 2015 saya sudah bisa memulai S3. Seleksi adminstrasi saya
lewati dengan mulus. Selanjutnya, wawancara dan group discussion dilaksanakan di bulan Desember. Kala itu besar
sekali harapan saya untuk dapat diterima, namun pada beberapa pertanyaan interview sepertinya saya kurang bisa
meyakinkan pewawancara, sehingga akhir Desember 2014, saya pun harus menelan
pil pahit kekecewaan karena tidak lolos seleksi wawancara.
Saya sempat
akan menyerah karena tidak bisa segera kembali ke Belanda, seperti janji saya
dulu. Hampir 2 bulan saya merenungi kekecewaan, sampai akhirnya orang tua dan sahabat-sahabat
dekat yang penuh dukungan menydarkan saya bahwa saya harus bangkit. Saya punya
mimpi dan harus saya wijudkan, entah dengan cara apa. Saya coba pasrahkan
semuanya, dan perlahan menata strategi untuk mendaftar kembali beasiswa LPDP
untuk kesempatan terakhir.
27 April 2015
adalah hari terakhir pemberkasan beasiswa LPDP untuk batch kedua 2015. Mei 2015, saya mendapat pengumuman lolos seleksi
administrasi dan layak untuk melanjutkan seleksi ke wawancara dan group discussion (lagi). Ya, memang
begitu alurnya. Seleksi demi seleksi saya lalui, hingga akhirnya 10 Juni 2015,
saya mendapatkan surel dari LPDP,
[LPDP] [KEP-44] Hasil Seleksi Wawancara
Magister dan Doktoral Tahap 2 tahun 2015
Subyek email yang membuat jantung saya berdegup 2
kali lebih kencang. Saya buka attachment dan
mencari nama saya diantara ribuan peserta yang lolos wawancara. Di bagian
DOKTOR LUAR NEGERI, akhirnya saya menemukan INNA ARMANDARI tercantum dengan
jelas di sana.
Dada saya rasanya penuh...mimpi ada di depan
mata saya...Ya Rabb, tak terhitung nikmat yang Engkau limpahkan...Meski
perjalanan masih panjang, namun ada satu kepastian yang saya dapatkan, Netherland I am back! Ik hou van jou...ik
koom eraan!!!!!
Hari ini, tepat setahun yang lalu, hari yang bersejarah untuk
langkah hidup saya. Semua mimpi-mimpi saya terjwab dan saya masih punya
segudang mimpi-mimpi lain yang menanti untuk diwujudkan.
Tuhan tau tapi menunggu, kata om Andrea Hirata… J
Jij kece amat sih hehe. Ganbatte!
ReplyDeletekece spa yo nduut?? masih kecean situ halan-halan ke Indihe khratisssss... :D
Delete