June 10, 2016

Supervisor dan Beasiswa

Menuju PehaDe bag.3

Ternyata menulis itu memang membutuhkan bnyak tenaga dan waktu. Benar saja, sejak saya mulai masuk lab seri menuju Pehade ini sempat mandek. Menjadi mahasiswa S3 di Belanda, sudah jangan ditanyakan lagi bagaimana naik-turunnya. Sebulan terakhir ini saya selalu pulang lebih dari jam 6 sore, sekedar untuk eksperimen ataupun cek-ricek jurnal. Itupun rasanya waktunya selalu kurang karena ada banyak bahan riset yang harus saya baca. Okee..lupakan sejenak tentang #PhDlife dan mari menengok kembali perjalanan menuju kesana.

Well, mencari supervisor yang baik dan mampu membimbing dengan minat riset yang cocok ternyata bukan perkara yang mudah juga. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua supervisor itu bisa membimbing mahasiswanya ke “jalan yang benar”, sedikit banyak otoriter, atau malah tidak peduli dengan mahasiswanya karena terlalu sibuk. Jika supervisor utama adalah seorang professor, biasanya diskusi proyek akan jarang dilakukan, sebulan 2x itu sudah cukup baik. Sehingga untuk diskusi teknis di lab sedikit banyak akan diberikan kepada postdoc atau associate professor. Nah, kelemahannya adalah untuk tahun-tahun awal kalau tidak dipantau secara serius oleh supervisor, akan sangat mudah untuk mahasiswa melenceng dan tidak fokus dari rencana awalnya. Sehingga, menurut pengalaman saya bimbingan dan arahan supervisor di tahun pertama itu sangat krusial dan tidak bisa disepelekan, meskipun si mahasiswa adalah murid yang pintar. Fakta lain, tidak jarang supervisor yang baik ditemukan, topik riset cocok, tapi sedang tidak ada posisi yang kosong untuk mahasiswa S3.

Pencarian supervisor ini bagi saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Mulai dari mengontak supervisor ketika S2 sampai mencari di kampus lain. Untuk topik, sebenarnya saya lebih condong ke Tumor Immunology. Namun, tidak banyak kampus yang memiliki pakar di bidang ini. Maka saya pun tidak menutup kemungkinan akan beralih topik, selama itu masih tentang Cancer Biology akan saya ambil. Setelah pencarian ke 8-10 orang profesor, PI, atau senior researcher, akhirnya saya pun diajak untuk Skype meeting dengan seorang junior PI dari UMC Groningen dengan topik epigenetic of pediatric brain cancer. Betapa senangnya saya saat itu karena pencarian saya akhirnya membuahkan hasil. Diskusi dan pertemuan pertama saya dengan Dr.SWM Bruggeman via Skype terjadi 20 Agustus 2014, hampir satu tahun sejak saya kembali ke Indonesia. Singkat cerita, saya pun menyampaikan ide riset dan keinginan untuk mendaftar beasiswa dari Indonesia, karena saya ingin kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan S3 dan menjadi dosen di almamater UGM. Beliaupun setuju dengan usulan saya dan dimulailah semua proses pendaftaran beasiswa.

Saya pun mendaftar beasiswa LPDP pada November 2014 dengan harapan jika diterima, pada bulan September 2015 saya sudah bisa memulai S3. Seleksi adminstrasi saya lewati dengan mulus. Selanjutnya, wawancara dan group discussion dilaksanakan di bulan Desember. Kala itu besar sekali harapan saya untuk dapat diterima, namun pada beberapa pertanyaan interview sepertinya saya kurang bisa meyakinkan pewawancara, sehingga akhir Desember 2014, saya pun harus menelan pil pahit kekecewaan karena tidak lolos seleksi wawancara.

Saya sempat akan menyerah karena tidak bisa segera kembali ke Belanda, seperti janji saya dulu. Hampir 2 bulan saya merenungi kekecewaan, sampai akhirnya orang tua dan sahabat-sahabat dekat yang penuh dukungan menydarkan saya bahwa saya harus bangkit. Saya punya mimpi dan harus saya wijudkan, entah dengan cara apa. Saya coba pasrahkan semuanya, dan perlahan menata strategi untuk mendaftar kembali beasiswa LPDP untuk kesempatan terakhir.

27 April 2015 adalah hari terakhir pemberkasan beasiswa LPDP untuk batch kedua 2015. Mei 2015, saya mendapat pengumuman lolos seleksi administrasi dan layak untuk melanjutkan seleksi ke wawancara dan group discussion (lagi). Ya, memang begitu alurnya. Seleksi demi seleksi saya lalui, hingga akhirnya 10 Juni 2015, saya mendapatkan surel dari LPDP,

[LPDP] [KEP-44] Hasil Seleksi Wawancara Magister dan Doktoral Tahap 2 tahun 2015

Subyek email yang membuat jantung saya berdegup 2 kali lebih kencang. Saya buka attachment dan mencari nama saya diantara ribuan peserta yang lolos wawancara. Di bagian DOKTOR LUAR NEGERI, akhirnya saya menemukan INNA ARMANDARI tercantum dengan jelas di sana.

Dada saya rasanya penuh...mimpi ada di depan mata saya...Ya Rabb, tak terhitung nikmat yang Engkau limpahkan...Meski perjalanan masih panjang, namun ada satu kepastian yang saya dapatkan, Netherland I am back! Ik hou van jou...ik koom eraan!!!!! 

Hari ini, tepat setahun yang lalu, hari yang bersejarah untuk langkah hidup saya. Semua mimpi-mimpi saya terjwab dan saya masih punya segudang mimpi-mimpi lain yang menanti untuk diwujudkan.

Tuhan tau tapi menunggu, kata om Andrea Hirata… J

2 comments:

  1. Replies
    1. kece spa yo nduut?? masih kecean situ halan-halan ke Indihe khratisssss... :D

      Delete