Menuju Pe-ha-De bag. 1
Selamat
datang 2016! Yap, tahun sudah berganti, namun rasa syukur melewati 2015 tak
akan pernah berhenti.
Ini adalah
tulisan pertama saya mengawali 2016. Saya sadar, sejak kembalinya saya ke
Indonesia blog ini rasanya sepi-sepi saja. Tak banyak yang saya tuliskan dan
bagikan cerita hidup saya selama ini. Hanya satu dua kali saya menulis, itupun
tidak terlalu detail, sehingga kurang bisa dinikmati sepertinya. Saya tidak
ingin berjanji, tapi saya akan berusaha untuk menulis lagi lebih sering seperti
yang saya lakukan dulu ketika hidup di Eropa.
Sekembalinya
saya ke Indonesia di September 2013, sebenarnya banyak hal yang saya lalui.
Mulai dari melepas kerinduan, kekecewaan, perjuangan, pengambilan keputusan,
hingga tangis bahagia. Semua terlalu campur aduk hingga saya tak tahu harus
bagaimana menguraikannya. Sekarang, ketika semua sudah lebih jelas,
rasa-rasanya akan lebih mudah menceritakan memori-memori itu lewat tulisan.
Jujur, waktu back for good setelah menyelesaikan
master di Belanda, saya bingung akan melakukan apa di Indonesia nanti.
Pertanyaan what’s next selalu
terngiang di kepala saya sejak saya take
off dari Schiphol, 18 September
2013. Hingga saya tiba di Jogja pertanyaan itu masih belum ada jawabannya. Saya
memang pulang tanpa banyak rencana dan ingin apa nanti. Meskipun sesungguhnya
saya masih ingat mimpi jangka panjang saya sebelum sekolah S2, yaitu menjadi
dosen dan mengabdi pada almamater. Namun, mimpi itu perlahan memudar karena
kesempatan dan posisi sepertinya belum ada. Akhirnya, untuk mengisi waktu luang
dan mencari jawaban, saya dipanggil untuk membantu sebuah proyek penelitian
dari profesor yang telah merekomendasikan saya ketika akan S2. Sambil
mengerjakan proyek, saya tengok kanan-kiri, mulai mencari dan mencoba melamar
pekerjaan. Saya tidak ingin mencari pekerjaan di Jakarta, karena saya tidak
mendapat feeling untuk hidup di sana.
Daripada hidup di Jakarta atau kota lain, lebih baik saya hidup di Eropa
sekalian, batin saya ketika itu.
Satu bulan,
dua bulan, saya masih merasa bahwa raga saya di Indonesia, tapi batin saya di
Belanda. Yap, saya belum move on.
Saya masih terbawa dengan suasana dan kehidupan indah di Belanda. Saya masih
makan roti lebih banyak daripada nasi, mendengarkan SkyRadio dari streaming,
naik sepeda ke kampus (meskipun jarak rumah-kampus lumayan jauh dan panas),
hingga mencari kuliner Belanda yang ada di Jogja, seperti knooflok sauce, bitter ballen,
dan kroketje. Dan saya menemukan
semuanya, aahhhh…. Betapa rindunya saya! Rasa it uterus hadir di hari-hari saya
hingga puncaknya, saya merasa bahwa saya harus kembali ke Belanda, titik.
Saya harus
kembali ke Belanda….. namun bagaimana? Apa yang harus saya lakukan? Kerja?
Sekolah lagi? Pikiran itu terus berkecamuk hingga beberapa minggu yang akhirnya
membawa saya untuk mulai berlayar di AcademicTransfer.com, sebuah situs
lowongan pekerjaan akademik di Belanda. Situs ini menyediakan berbagai lowongan
pekerjaan yang ada di universitas-universitas di Belanda, mulai dari teknisi
penelitian hingga lowongan professor, walaupun banyak posting tentang posisi PhD. Ya.. PhD, sekolah untuk mendapat gelar
PhD atau kalau istilahnya di Indonesia, sekolah S3.
Tidak pernah
ada dalam daftar rencana jangka pendek saya sebenarnya untuk melanjutkan PhD,
bagi saya yang lulusan master di Belanda, hidup PhD itu sulit dan penuh intrik,
serta dihantui berbagai ketakutan yang lain mulai dari supervisor, publikasi, eksperimen. Rasanya hidup tak pernah damai.
Apalagi kalau harus melanjutkan PhD di Belanda yang notabene, minimal (mohon
dicatat “minimal”) akan berlangsung selama 4 tahun. Namun rasa-rasanya saya tak
punya pilihan lain, kalau tidak sekolah lagi kapan saya bias hidup di luar
negeri (lagi). Didorong pula oleh cita-cita orang tua saya yang ingin anaknya
ini menjadi dosen, sepertinya tak bias mengelak lagi kalau saya harus
melanjutkan pendidikan di jenjang S3.
Saya bulatkan
tekad, mencari semangat, dan memulai memutar otak untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan yang ada. Akhirnya terpampanglah mimpi yang saya
tempelkan besar-besar di dinding kamar “Road
to PhD 2015”
No comments:
Post a Comment