February 12, 2016

Rencana tak terduga

Menuju Pe-ha-De bag. 1

Selamat datang 2016! Yap, tahun sudah berganti, namun rasa syukur melewati 2015 tak akan pernah berhenti.

Ini adalah tulisan pertama saya mengawali 2016. Saya sadar, sejak kembalinya saya ke Indonesia blog ini rasanya sepi-sepi saja. Tak banyak yang saya tuliskan dan bagikan cerita hidup saya selama ini. Hanya satu dua kali saya menulis, itupun tidak terlalu detail, sehingga kurang bisa dinikmati sepertinya. Saya tidak ingin berjanji, tapi saya akan berusaha untuk menulis lagi lebih sering seperti yang saya lakukan dulu ketika hidup di Eropa.

Sekembalinya saya ke Indonesia di September 2013, sebenarnya banyak hal yang saya lalui. Mulai dari melepas kerinduan, kekecewaan, perjuangan, pengambilan keputusan, hingga tangis bahagia. Semua terlalu campur aduk hingga saya tak tahu harus bagaimana menguraikannya. Sekarang, ketika semua sudah lebih jelas, rasa-rasanya akan lebih mudah menceritakan memori-memori itu lewat tulisan.

Jujur, waktu back for good setelah menyelesaikan master di Belanda, saya bingung akan melakukan apa di Indonesia nanti. Pertanyaan what’s next selalu terngiang di kepala saya sejak saya take off  dari Schiphol, 18 September 2013. Hingga saya tiba di Jogja pertanyaan itu masih belum ada jawabannya. Saya memang pulang tanpa banyak rencana dan ingin apa nanti. Meskipun sesungguhnya saya masih ingat mimpi jangka panjang saya sebelum sekolah S2, yaitu menjadi dosen dan mengabdi pada almamater. Namun, mimpi itu perlahan memudar karena kesempatan dan posisi sepertinya belum ada. Akhirnya, untuk mengisi waktu luang dan mencari jawaban, saya dipanggil untuk membantu sebuah proyek penelitian dari profesor yang telah merekomendasikan saya ketika akan S2. Sambil mengerjakan proyek, saya tengok kanan-kiri, mulai mencari dan mencoba melamar pekerjaan. Saya tidak ingin mencari pekerjaan di Jakarta, karena saya tidak mendapat feeling untuk hidup di sana. Daripada hidup di Jakarta atau kota lain, lebih baik saya hidup di Eropa sekalian, batin saya ketika itu.

Satu bulan, dua bulan, saya masih merasa bahwa raga saya di Indonesia, tapi batin saya di Belanda. Yap, saya belum move on. Saya masih terbawa dengan suasana dan kehidupan indah di Belanda. Saya masih makan roti lebih banyak daripada nasi, mendengarkan SkyRadio dari streaming, naik sepeda ke kampus (meskipun jarak rumah-kampus lumayan jauh dan panas), hingga mencari kuliner Belanda yang ada di Jogja, seperti knooflok sauce, bitter ballen, dan kroketje. Dan saya menemukan semuanya, aahhhh…. Betapa rindunya saya! Rasa it uterus hadir di hari-hari saya hingga puncaknya, saya merasa bahwa saya harus kembali ke Belanda, titik.

Saya harus kembali ke Belanda….. namun bagaimana? Apa yang harus saya lakukan? Kerja? Sekolah lagi? Pikiran itu terus berkecamuk hingga beberapa minggu yang akhirnya membawa saya untuk mulai berlayar di AcademicTransfer.com, sebuah situs lowongan pekerjaan akademik di Belanda. Situs ini menyediakan berbagai lowongan pekerjaan yang ada di universitas-universitas di Belanda, mulai dari teknisi penelitian hingga lowongan professor, walaupun banyak posting tentang posisi PhD. Ya.. PhD, sekolah untuk mendapat gelar PhD atau kalau istilahnya di Indonesia, sekolah S3.

Tidak pernah ada dalam daftar rencana jangka pendek saya sebenarnya untuk melanjutkan PhD, bagi saya yang lulusan master di Belanda, hidup PhD itu sulit dan penuh intrik, serta dihantui berbagai ketakutan yang lain mulai dari supervisor, publikasi, eksperimen. Rasanya hidup tak pernah damai. Apalagi kalau harus melanjutkan PhD di Belanda yang notabene, minimal (mohon dicatat “minimal”) akan berlangsung selama 4 tahun. Namun rasa-rasanya saya tak punya pilihan lain, kalau tidak sekolah lagi kapan saya bias hidup di luar negeri (lagi). Didorong pula oleh cita-cita orang tua saya yang ingin anaknya ini menjadi dosen, sepertinya tak bias mengelak lagi kalau saya harus melanjutkan pendidikan di jenjang S3.


Saya bulatkan tekad, mencari semangat, dan memulai memutar otak untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Akhirnya terpampanglah mimpi yang saya tempelkan besar-besar di dinding kamar “Road to PhD 2015

No comments:

Post a Comment