Kata Franz Kafka "Prague doesn't let go"
Ndak nyambung ya...biarkan saja, yang pasti trip kali ini memberikan salah satu kesan terindah dan mungkin akan menjadi trip terakhir sebelum balik ke Indo.
Yap, solo trip kedua buat saya, setelah summer trip 2012 lalu. Entah bisa dibilang solo atau tidak, karena notabene, dikota yang saya kunjungi, saya bertemu dengan teman Indonesia. Tapi yang pasti saya berangkat dan mengatur semua perjalanan sendiri. Dengan sisa tabungan yang masih saya miliki (aka mbolang minim) akhirnya jadi juga saya mengunjungi Dresden dan Praha. Dua kota cantik yang sudah lama sekali ingin saya datangi.
Dresden, entah mengapa sejak mendengar kota itu disebut pertama kali, ada sesuatu yang menggelitik hati saya, seperti halnya ketika saya mendengar nama, Heidelberg. Kunjungan ke Dresden sebenarnya ingin saya gabungkan dengan spring trip lalu, namun apa daya thesis belum selesai, jadi lah saya tunda juga. Beruntung di Dresden ada mb. Lena yang jauh-jauh hari sudah bersedia saya repotin. Tiga malam saya habiskan di Dresden. Puas rasanya.
Dresden cantik dengan sungai Elbe dan bangunan-bangunan sangat Eropa, megah, kuno, dan gaya agak gothic. Persis dengan gambaran bangunan-bangunan Eropa yang ada di otak saya. Dresden sebenarnya terbagi 2 seperti di Heidelberg, ada Altmarkt dan Neumarkt, dengan bangunan-bangunan indah bak istana ada di sisi Altmarkt. Transportasi juga cukup mudah menggunakan tram. Tapi dasarnya saya modal minim ya banyakin aja jalan kaki, dijamin irit dan cukup gempor..:p Well, walaupun begitu tetap senang dan alhamdulillah masih bisa puasa. Ketika di Dresden, saya juga diajak mb Lena ikut pengajian dan dikenalkan dengan warga Dresden yang lain. Senang, bisa tambah temen baru. Tak terasa 2 hari di Dresden begitu cepat dan saya pun harus pindah mengunjungi Praha, kota romantis di jantung Eropa.
Praha atau Prague, saya dulu selalu mendengar nama kota ini dan sering dikatakan sebagai kota romantis setelah Paris. Tapi sayang, bagi saya Prague lebih cantik dan lebih romantis daripada Paris. Kalau ada jalan cinta bagi saya, mungkin saya lebih pengin dilamar dan bulan madu di Prague...tsaaahh...*ngimpidotcom
Yap, kunjungan ke Prague ini sebenarnya saya rencanakan berdua dengan seorang teman, namun sayang karena satu dan lain hal, teman seperjalanan saya ini tidak jadi berangkat. Alhasil, saya pun harus berjuang sendiri menaklukan Prague. Awalnya saya agak ragu untuk pergi seorang diri. Tapi karena keinginan yang kuat dan janji pada diri saya, semua ketakutan saya lepaskan dan saya biarkan kaki ini melangkah kemudian menginjak Republik Ceko.
Untungnya di Prague saya punya kenalan dari radio ppi dunia, dj riswanti, yang biasa saya panggil tante ris. Kontakan pun sudah saya lakukan hampir 2 bulan lalu dan semakin intens seminggu menjelang berangkat.
Petualangan pun dimulai ketika saya tiba di stasiun Praha hlavni nadrazi (bahasanya susah banget!). Dengan sok pede saya pun mencari hostel tempat menginap dengan berjalan kaki. Berhubung gambar di peta tampak mudah, tak mau saya keluar uang. Tapi ternyata, tidak semudah yang digambarkan di peta karena saya baru menemukannya setelah berkeliling kurang lebih satu setengah jam. Setiba di hostel dan mendapat koneksi internet, langsung saja saya hubungi mbak ris, dan sore itu juga saya diajak acara buka bersama di KBRI Ceko. Waaahh....senang, bisa berkunjung ke rumah warga Indonesia. Saya pun dikenalkan dengan teman-teman ppi ceko, yang dengan senang hati menjadi guide saya dan seorang teman, keesokan paginya. Buka bersama hari itu terasa spesial bagi saya, karena dihabiskan bersama teman-teman Indonesia lain dan di KBRI dengan menu- menu khas Indonesia tentunya.
Pagi harinya, eksplorasi kota Prague pun dimulai sekitar pukul 10 dengan meeting point "bawah patung kuda Muzeum". Saya, yahya, dwi dan akhir yang menjadi guide kami hari itu, memandu mengunjugi icon-icon penting kota Prague, mulai dari astronomical clock yang dahulu sangat penting untuk menentukan iklim dan terbuat dari emas, hingga charles bridge yang dilalui sungai vlatava. Berhubung cuaca begitu panas, kami pun beristirahat di taman dekat sungai. Jalan-jalan belum berakhir karena sekitar pukul 4 sore, mbak ris datang bergabung dan membawa kami mengeksplor daerah kastil Praha yang terletak di atas bukit. Dari kastil ini, pemandangan kota Praha terlihat begitu memukau, persis seperti yang ada difoto-foto. Cantik sekali dan agak mirip dengan pemandangan kota Zurich dari atas, bedanya, di Praha didominasi oleh warna merah. Sungguh pemandangan yang dulunya cuma ada di foto-foto sekarang bisa saya nikmati secara langsung. Rasa syukur yang sama saya rasakan ketika akhirnya saya mampu mengunjungi kota-kota indah yang dulu ada di dinding kamar saya dan kini saya jejakkan kaki di sana. Jalan-jalan belum berakhir, kami masih melihat-lihat suasana kota Praha yang cantik menjelang sore hari ditemani camilan crepes khas Ceko, kombinasi yang sungguh pas, rasanya tidak mau berakhir. Kita pun menikmati makan bersama di McD dan sebuah resto Asia, noodle box. Hari yang sangat menyenangkan, jadi kangen Praha, belum puas rasanya 2 malam disana. Kota yang cantik, meski tak ada satu katapun bahasa Ceko yang bisa saya tangkap.
Hari terakhir di Praha saya habiskan dengan jalan-jalan solo, mengunjungi tempat-tempat yang hari sebelumnya belum tercakup. kali ini saya melewati jembatan yang ada di seberang Charles bridge karena saya ingin mendapatkan gambar jembatan satu itu secara utuh. Hari yang masih cukup panas, selesai mengambil beberapa gambar Charles bridge saya pun mengunjungi museum Kafka. Sebenarnya saya tidak begitu kenal siapa dia, tapi saya mengenalnya dari novel kak Windy Ariestanty, Life Traveler. Ternyata dia adalah seorang penulis terkenal yang sangat dibanggakan oleh orang-orang Praha. Kafka adalah Praha dan Praha adalah Kafka, begitu katanya. Museumnya tidak cukup besar tapi sangat merepresentasikan kehidupan seorang Franz Kafka dari masa ke masa. Tulisan-tulisannya dipamerkan di museum juga beberapa buku karyanya. Puas menikmati biografi kehidupan Franz Kafka, saya pun melanjutkan jalan-jalan sekitar Praha, hingga akhirnya kereta malam membawa saya kembali ke Nijmegen dengan membawa kenangan manis selama di Praha. Saya berharap bisa mengunjungi Praha lagi suatu hari nanti.
Groetjes.. :)
Fill your heart..fill your love....^^
Praha
Dresden