Showing posts with label the journey. Show all posts
Showing posts with label the journey. Show all posts

August 3, 2013

heart of Europe trip


Kata Franz Kafka "Prague doesn't let go"
Ndak nyambung ya...biarkan saja, yang pasti trip kali ini memberikan salah satu kesan terindah dan mungkin akan menjadi trip terakhir sebelum balik ke Indo. 

Yap, solo trip kedua buat saya, setelah summer trip 2012 lalu. Entah bisa dibilang solo atau tidak, karena notabene, dikota yang saya kunjungi, saya bertemu dengan teman Indonesia. Tapi yang pasti saya berangkat dan mengatur semua perjalanan sendiri. Dengan sisa tabungan yang masih saya miliki (aka mbolang minim) akhirnya jadi juga saya mengunjungi Dresden dan Praha. Dua kota cantik yang sudah lama sekali ingin saya datangi. 

Dresden, entah mengapa sejak mendengar kota itu disebut pertama kali, ada sesuatu yang menggelitik hati saya, seperti halnya ketika saya mendengar nama, Heidelberg.  Kunjungan ke Dresden sebenarnya ingin saya gabungkan dengan spring trip lalu, namun apa daya thesis belum selesai, jadi lah saya tunda juga. Beruntung di Dresden ada mb. Lena yang jauh-jauh hari sudah bersedia saya repotin. Tiga malam saya habiskan di Dresden. Puas rasanya. 

Dresden cantik dengan sungai Elbe dan bangunan-bangunan sangat Eropa, megah, kuno, dan gaya agak gothic. Persis dengan gambaran bangunan-bangunan Eropa yang ada di otak saya. Dresden sebenarnya terbagi 2 seperti di Heidelberg, ada Altmarkt dan Neumarkt, dengan bangunan-bangunan indah bak istana ada di sisi Altmarkt. Transportasi juga cukup mudah menggunakan tram. Tapi dasarnya saya modal minim ya banyakin aja jalan kaki, dijamin irit dan cukup gempor..:p Well, walaupun begitu tetap senang dan alhamdulillah masih bisa puasa. Ketika di Dresden, saya juga diajak mb Lena ikut pengajian dan dikenalkan dengan warga Dresden yang lain. Senang, bisa tambah temen baru. Tak terasa 2 hari di Dresden begitu cepat dan saya pun harus pindah mengunjungi Praha, kota romantis di jantung Eropa. 

Praha atau Prague, saya dulu selalu mendengar nama kota ini dan sering dikatakan sebagai kota romantis setelah Paris. Tapi sayang, bagi saya Prague lebih cantik dan lebih romantis daripada Paris. Kalau ada jalan cinta bagi saya, mungkin saya lebih pengin dilamar dan bulan madu di Prague...tsaaahh...*ngimpidotcom
Yap, kunjungan ke Prague ini sebenarnya saya rencanakan berdua dengan seorang teman, namun sayang karena satu dan lain hal, teman seperjalanan saya ini tidak jadi berangkat. Alhasil, saya pun harus berjuang sendiri menaklukan Prague. Awalnya saya agak ragu untuk pergi seorang diri. Tapi karena keinginan yang kuat dan janji pada diri saya, semua ketakutan saya lepaskan dan saya biarkan kaki ini melangkah kemudian menginjak Republik Ceko. 
Untungnya di Prague saya punya kenalan dari radio ppi dunia, dj riswanti, yang biasa saya panggil tante ris. Kontakan pun sudah saya lakukan hampir 2 bulan lalu dan semakin intens seminggu menjelang berangkat. 

Petualangan pun dimulai ketika saya tiba di stasiun Praha hlavni nadrazi (bahasanya susah banget!). Dengan sok pede saya pun mencari hostel tempat menginap dengan berjalan kaki. Berhubung gambar di peta tampak mudah, tak mau saya keluar uang. Tapi ternyata, tidak semudah yang digambarkan di peta karena saya baru menemukannya setelah berkeliling kurang lebih satu setengah jam. Setiba di hostel dan mendapat koneksi internet, langsung saja saya hubungi mbak ris, dan sore itu juga saya diajak acara buka bersama di KBRI Ceko. Waaahh....senang, bisa berkunjung ke rumah warga Indonesia. Saya pun dikenalkan dengan teman-teman ppi ceko, yang dengan senang hati menjadi guide saya dan seorang teman, keesokan paginya. Buka bersama hari itu terasa spesial bagi saya, karena dihabiskan bersama teman-teman Indonesia lain dan di KBRI dengan menu- menu khas Indonesia tentunya. 

Pagi harinya, eksplorasi kota Prague pun dimulai sekitar pukul 10 dengan meeting point "bawah patung kuda Muzeum". Saya, yahya, dwi dan akhir yang menjadi guide kami hari itu, memandu mengunjugi icon-icon penting kota Prague, mulai dari astronomical clock yang dahulu sangat penting untuk menentukan iklim dan terbuat dari emas, hingga charles bridge yang dilalui sungai vlatava. Berhubung cuaca begitu panas, kami pun beristirahat di taman dekat sungai. Jalan-jalan belum berakhir karena sekitar pukul 4 sore, mbak ris datang bergabung dan membawa kami mengeksplor daerah kastil Praha yang terletak di atas bukit. Dari kastil ini, pemandangan kota Praha terlihat begitu memukau, persis seperti yang ada difoto-foto. Cantik sekali dan agak mirip dengan pemandangan kota Zurich dari atas, bedanya, di Praha didominasi oleh warna merah. Sungguh pemandangan yang dulunya cuma ada di foto-foto sekarang bisa saya nikmati secara langsung. Rasa syukur yang sama saya rasakan ketika akhirnya saya mampu mengunjungi kota-kota indah yang dulu ada di dinding kamar saya dan kini saya jejakkan kaki di sana. Jalan-jalan belum berakhir, kami masih melihat-lihat suasana kota Praha yang cantik menjelang sore hari ditemani camilan crepes khas Ceko, kombinasi yang sungguh pas, rasanya tidak mau berakhir. Kita pun menikmati makan bersama di McD dan sebuah resto Asia, noodle box. Hari yang sangat menyenangkan, jadi kangen Praha, belum puas rasanya 2 malam disana. Kota yang cantik, meski tak ada satu katapun bahasa Ceko yang bisa saya tangkap. 

Hari terakhir di Praha saya habiskan dengan jalan-jalan solo, mengunjungi tempat-tempat yang hari sebelumnya belum tercakup. kali ini saya melewati jembatan yang ada di seberang Charles bridge karena saya ingin mendapatkan gambar jembatan satu itu secara utuh. Hari yang masih cukup panas, selesai mengambil beberapa gambar Charles bridge saya pun mengunjungi museum Kafka. Sebenarnya saya tidak begitu kenal siapa dia, tapi saya mengenalnya dari novel kak Windy Ariestanty, Life Traveler. Ternyata dia adalah seorang penulis terkenal yang sangat dibanggakan oleh orang-orang Praha. Kafka adalah Praha dan Praha adalah Kafka, begitu katanya. Museumnya tidak cukup besar tapi sangat merepresentasikan kehidupan seorang Franz Kafka dari masa ke masa. Tulisan-tulisannya dipamerkan di museum juga beberapa buku karyanya. Puas menikmati biografi kehidupan Franz Kafka, saya pun melanjutkan jalan-jalan sekitar Praha, hingga akhirnya kereta malam membawa saya kembali ke Nijmegen dengan membawa kenangan manis selama di Praha. Saya berharap bisa mengunjungi Praha lagi suatu hari nanti. 

Groetjes.. :) 
Fill your heart..fill your love....^^

Praha 




 

 

 

 

 

 

 




















Dresden 

 







 









May 5, 2013

Kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya

Pasti banyak yang sudah tahu kalau judul diatas diambil dari quote di sebuah buku. Yap! benar sekali, itu adalah salah satu potongan kalimat di novel karya Dhony D, 5 cm, yang saya baca ketika jaman SMA dulu dan menjadi film beberapa waktu lalu. Saya bangga bisa menuliskannya dan merasakan sendiri bahwa "kaki ini melangkah lebih jauh" karena saya adalah orang yang percaya pada kekuatan mimpi! 

Oke, sedikit merangkum saja apa yang saya lalui bulan April lalu. Sebuah trip kecil yang saya jalani bersama seorang sahabat saya di Nijmegen untuk mengunjungi Italy dan Berlin, ternyata mampu membuat saya belajar lebih banyak dan mewujudkan sedikit mimpi saya, serta melaksanakan resolusi saya yang sempat tertunda tahun lalu. Banyak pengalaman yang saya rasakan dalam trip ini karena notabene kami hanya berdua dan cewek-cewek pula. Detailnya akan saya ceritakan di tulisan-tulisan saya selanjutnya, karena saat ini saya harus menyelesaikan thesis saya secepatnya demi kelulusan tahun ini, Amin. Yang pasti, selama trip saya ke Palermo-Rome-Venice-Milan-Potsdam-Berlin, saya jadi melihat dengan mata saya sendiri, foto-foto tempat-tempat indah yang dulu pernah menggantung di dinding kamar saya di Jogja. Dulu saya dapat foto-foto cantik itu dari NatGeo, sekarang saya bisa puas berfoto dengan kamera saya sendiri. Yang dulunya cuma di foto, sekarang ada di depan mata saya. Bersyukur sekali bahwa kaki ini mampu melangkah lebih jauh dan mewujudkan apa yang dulu cuma gambar tapi sekarang ada di depan mata. Kadang masih berasa mimpi saja, tapi itulah karunia-Nya dan ijin-Nya untuk saya. Terima kasih Ya Rabb, Engkau tahu waktu terbaik untuk mewujudkan semua mimpi ini. 

Dan inilah foto-foto NatGeo yang ada di kamar saya dulu... :) 
 

 

 



Yang ini foto jepretan kamera saya, walaupun kualitasnya jauh berbeda tapi mata saya mampu merekam rapi semua yang saya lihat dan biarlah saya simpan sendiri.. :) 

 

 

     

Sedikit narsis boleh juga lah ya.. :)

 



July 13, 2012

Pelajaran dalam setiap perjalanan

Teringat sebuah nasehat dari Imam Syafi'i di novel Negeri 5 Menara yang menuliskan 

Pergilah (merantaulah) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu Ilmu Pengetahuan, Adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.
Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang maka ia akan membusuk.

Brussels from above
Sebenarnya anjuran ini masih ada beberapa kalimat namun saya penggal pada kalimat di atas karena saya merasa itu sangat sesuai dengan apa yang saya rasakan dalam perjalanan singkat saya ke Brussels dan Brugge (Brugse in English), Belgia beberapa hari lalu.
Manekinn piss

Mini Europe berlatar Atomium
Berawal dari ajakan seorang senior PhD student di Nijmegen yang akan pulng ke Indonesia karena masa kunjungan untuk program sandwich di Indonesia-Belanda akan habis, saya pun mengiyakan untuk bergabung dalam perjalanan singkat ke Belgia. Singkat cerita, ada 3 rombongan keluarga dan saya seorang yang mahasiswa master yang berangkat. Tadinya kami berencana untuk trip satu hari saja, tanpa menginap, namun setelah saya pikir-pikir tampaknya akan sangat melelahkan untuk trip langsung satu hari di Brussels. Akhirnya ada kontak dengan seorang rekan PhD di Belgia dan belaiu bersedia untuk mencarikan hotel dan memandu rombongan keliling kota Brussels. Saat itulah tiba-tiba saya kepikiran untuk memperpanjang kunjungan di Belgia dengan jalan-jalan di Leuven dan Brugge.
Belgian waffle
Tanpa pikir panjang saya langsung menyampaikan niat ini pada rombongan dan nanti akan berpisah dihari Minggu, sementara rombongan pulang dan saya akan tetap tinggal sendiri. Di situlah petualangan solo travel saya untuk pertama kali di mulai. Karena saya tidak bisa tinggal lagi di hotel untuk semalam lagi, jadilah saya dicarikan tmpat menginap di sebuah apartemen PhD student di Brussels, mb Alfi namanya. Hanya 3 hari sebelum keberangkatan kami kontak satu dengan yang lain dan beliau dengan senang hati menerima saya. Bersyukur sekali rasanya mendapatkan tempat menginap walau hanya semalam
Peta metro

European Parliament in Brussels
Untuk sampai ke Brussels dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan kereta NS Hispeed. Kali ini warnanya bukan warna favorit yang kuning-biru tapi dengan warna dasar hitam dan warna-warni tidak terdefinisi..;p Sampai di Brussels sudah menjelang jam 3 dan akhirnya diputuskan untuk cek-in hotel dulu baru jalan-jalan keliling Brussels. Transportasi paling mudah untuk kota metropolitan tentunya adalah metro (teringat perjalanan saya ke Spanyol menaklukan metro Barcelona..:p *songong). Namun, sayangnya berkeliling dengan metro tidak bisa melihat kondisi kota yang sebenarnya dan diperlukan transfer dari satu jalur ke jalur yang lain dengan kecepatan jalan cukup tinggi, bahkan setengah berlari. Kalau boleh berkomentar, metro bukanlah transportasi yang pas untuk rombongan keluarga, jika ada tram atau bus itu lebih menarik.

Kunjungan pertama adalah Atomium yang merupakan bangunan yang menggambarkan atom-atom yang dihubungkan oleh ikatan. Teringat pelajaran jaman SMA, atom adalah partikel terkecil penyusun unsur (kalau tidak salah, agak lupa). Pokoknya bentuknya sangat kimia lah. Sebenarnya pengunjung bisa menaiki bangunan ini hingga tingkat paling atas karena di dalamnya berisi restoran-restoran dengan harga bersaing alias selangit. Berhubung kami tidak masuk maka pilihan lain adalah memasuki Mini Europe. Ini adalah miniatur bangunan-bangunan terkenal di benua Eropa, seperti Madurodam di Belanda. Isi di dalam Mini Europe ini ternyata cukup menarik ada simulasi-simulasi yang diperagakan jadi benar-benar Eropa dalam bentuk mini. Puas di spot ini kami pun pindah ke pusat kota (centrum). Oh iya, di sini kami juga menikmati cita rasa makanan Meksiko.
Beef enchillada from Mexico

Seperti pusat kota metropolitan lainnya, Centrum Brussels tampak padat, penuh dengan turis, dan selalu agak kotor. Jalan-jalan di sini, saya agak merasa kurang nyaman karena terlalu crowded dan banyak migran dengan wajah agak seram, serta bahasa yang mayoritas adalah Prancis. Namun, saya tetap berusaha menikmatinya. Di Centrum inilah terdapat patung bocah yang mendunia, Manekin piss. Patung ini selalu digembor-gemborkan oleh wisatawan ketika mengunjungi ibukota Belgia ini. Bayangan saya patung bocah ini cukup tinggi, namun ternyata tingginya tak kurang 50 cm, sungguh mungil namun begitu mendunia.
Naturwettenschapen museum
Karena waktu yang sudah malam dan sebagian besar rombongan sudah capek maka acara di centrum ini pun segera diakhiri setelah makan malam. FYI, akhirnya saya bisa menikmati wafel dengan coklat melting asli dari Belgia. Sensasinya adalah enak banget, lembut, agak crispy, wafelnya tidak terlalu manis, dan tidak bikin eneg. Makan wafel ini ternyata cukup mengenyangkan, ditambah dengan susu panas, lengkaplah dinner saya dan bisa tidur dengan nyenyak tanpa lapar.

Minggu pagi di Brussels, rombongan menikmati sarapan dari hotel. Kami pun berpisah setelah check out hotel sekitar pukul 10 pagi. Saya pun melanjutkan petualangan di Brussels seorang diri. Beberapa tempat yang belum sempat saya kunjungi hari sebelumnya saya coba datangi. Tidak begitu banyak yang tersisa, namun saya nikmati saja. Dan malamnya sayapun menginap di rumah mb Alfi. Tidak disangka, semalam di apartemen beliau membuat saya betah dan bnyak bercerita. Saya pun mendapat banyak pelajaran darinya, pengalaman bekerja di bidang riset di Indonesia pun beliau bagikan dengan senang hati. Ini membuat saya mendapat sedikit banyak gambaran bagaimana nantinya jika akan melanjutkan bekerja pada bidang riset di Indonnesia.

Salah satu sudut Brugge
Canal tour, Brugge
Senin pagi itupun saya meninggalkan Brussels, diantar mb Alfi untuk menuju Brugge. Perjalanan ke Brugge membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan saya langsung menuju Centrum Brugge. Kali ini saya tidak membawa peta sama sekali, hanya berbekal feeling dan ingatan ketika melihat peta di satsiun ketika akan menuju pusat kota. Centrum Brugge sungguh cantik. Begitu datang saya langsung jatuh cinta seperti halnya dengan apa yang saya rasakan di Barcelona dulu. Bangunannya sangat terkesan Eropa jaman dulu dan masih terawat dengan baik. Tidak heran jika kota ini menjadi dinobatkan sebagai UNESCO World Heritage. Di sini juga terdapat kanal yang membelah kota dan para wisatawan bisa berkeliling menggunakan boat dengan harga 7.6 eu per jam, namun saya urung bergabung. Saya lebih memilih berkeliling kota dengan jalan kaki. Untungnya walaupun tanpa peta saya tidak nyasar dan tetap bisa menikmati Centrum Brugge dengan puas. Sekitar pukul 4 sore saya memutuskan untuk kembali ke stasiun karena kereta saya ke Nijmegen akan berangkat pukul 17.18.

Mini Europe
Untuk kembali ke stasiun saya menempuh jalan yang berbeda dan ternyata agak jauh, tapi tetap bisa kembali ke stasiun tepat waktu. Kereta saya pun berangkat tepat pukul 17.18, cukup penuh dan saya nantinya harus transfer di Antwerpen dan berganti ke kreta menuju Belanda. Dalam perjalanan dengan kereta ini, saya senang sekali mengenang perjalanan yang telah saya lalui. Dari perjalanan kali ini saya banyak belajar dan saya mulai berani untuk melakukan perjalanan seorang diri.
Brugge
Namun, saya harus mohon maaf pada Bunda saya, karena saya bilang saya pergi bersama rombongan tapi pada akhirnya saya jalan seorang diri. Maafkan anakmu ini Bunda karena telah pergi sendiri, Q tak mau membuatmu khawatir. Yang pasti Q senang dengan perjalanan kali ini dan karena ijinmu Q bisa menjelajah Eropa. Terima kasih Bunda.