Kutuliskan kisahku sebagai pengingat dan memori untuk aku belajar dan memberikan inspirasi bagi semua..
19 Agustus 2010
 |
Inna Ar, S.Farm |
Memasuki Ramadhan di tahun 1431H. Hari bersejarah bagi saya dan ribuan mahasiswa S1 UGM lainnya. Di hari ini lah kami resmi dinobatkan sebagai sarjana S1. Teringat perjuangan memperoleh gelar sarjana pun seolah berputar seperti pita film hitam putih. Empat tahun lalu di pelataran Graha Sabha Pramana, saya di terima sebagai mahasiswa baru (Maba) UGM angkatan 2006. Masih jelas ingatan saya betapa polosnya masa itu. Seragam hitam putih yang identik dengan mahasiswa baru dikenakan semua mahasiswa dan pelataran GSP pun memiliki warna yang sama. Hari itu, 19 Agustus 2010, seragam kebesaran pun dikenakan, toga hitam dengan topi yang kucirnya telah berpindah ke kanan. Semua bahagia, puas dengan usaha menggapai sarjana. Senyum bangga pun mengembang, ketika orang tua saya melihat putri tunggalnya telah mampu melalui masa-masa kuliah dan berharap ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi umat manusia.
 |
my classmate..:) |
Rasa haru juga meliputi batin saya sendiri ketika saya meyakini dalam diri saya bahwa tahun selanjutnya saya sudah harus mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada akhirnya, tak ada yang tahu bahwa afirmasi diri yang saya ucapkan terwujud setahun kemudian.
19 Agustus 2011
 |
The day |
Berbagai perasaan bercampur sejak bangun pagi hari itu, bulan Ramadhan 1432 H dan jatuh pada hari Jumat. Sungguh rasanya tak ingin pergi dan ingin selalu bersama orang tua dan orang-orang yang saya sayangi di kampung halaman. Namun, hidup harus berjalan dan merantau (hijrah) adalah salah satu yang disukai Rasulullah SAW. Ya, itulah hari keberangkatan saya ke Belanda untuk menempuh studi master selama 2 tahun, tepat setahun setelah kelulusan dan 2 bulan selepas pendidikan apoteker. Memasuki bandara Adisucipto dengan dilepas keluarga dan beberapa teman dekat membuat campur aduk rasa dalam hati saya. Di pesawat menuju Jakarta pun saya hanya bisa menangis, kalaupun ditahan malah tambah nyesek. Buka puasa hari itu pun, saya berada di pesawat dengan sari kacang hijau, pemberian seorang dokter di sebelah saya. Dan menjelang penerbangan ke Amsterdam, di ruang tunggu bandara CGK, kakak saya menelpon dan membuat air mata saya menetes lagi.
 |
my last sunset in Jogja |
Di dalam pesawat GA 088 pun saya masih meneteskan air mata. Saya tidak tahu mengapa saya menangis. Keharuan yang bercampur, ada ketakutan yang terselip, dan harapan lapisan mimpi yang membuat saya bertahan dan tegar. Perjalanan itu adalah salah satu momen besar dalam hidup saya yang tak pernah bisa saya lupakan.
Dan.......ketika waktu berjalan, satu tahun sudah saya berada di negeri orang...
19 Agustus 2012
 |
Doa daun kelapa..:) |
 |
putri salju yang kilat |
 |
Kembang api malam takbiran |
 |
Hidangan Lebaran KEMUNI |
 |
Rendang |
Hari raya Idul Fitri 1433 H. Lebaran kedua saya di Belanda, dan saya habiskan di Nijmegen masih bersama dengan KEMUNI, bersama kemeriahan dan kehangatan keluarga baru. Meski tidak di tanah air namun di sini pun saya masih bisa menikmati Lebaran dan sedikit rupa dan rasanya. Alhamdulillah tahun ini masih ada ketupat, opor, dan masakan ala Lebaran lain, paling tidak mengobati kerinduan saya pada hidangan Lebaran yang biasa disajikan di rumah eyang saya di Magelang. Meskipun tidak ada camilan Lebaran seperti kue dahlia, nastar, kaastengel, dan putri salju, masih bisa digantikan dengan yang lain, walau sebenarnya kangen juga. Jumat sore saya sudah berada di rumah salah seorang keluarga Indonesia di Nijmegen, mereka sudah seperti orang tua saya di sini. Sejak pertama kali datang di Nijmegen, merekalah yang banyak membantu saya. Mereka adalah salah satu pasangan suami-istri yang saya kagumi juga, bang Ary dan kak Sofi. Keluarga yang penuh dengan kehangatan dan saya pun menghabiskan hari terakhir Ramadhan bersama mereka. Sabtu siang saya sudah siap untuk masak-memasak bersama kak Sofi. Diawali dengan membuat ketupat, masak rendang, lontong sayur, dan akhirnya dengan kilat saya membuat kue putri salju. Alhamdulillah semua masakan beres. Dan sholat Ied di hari Minggu kami laksanakan bersama dengan rekan-rekan Indonesia lain di rumah Tante Evi. Bersyukur sekali Lebaran tahun ini cukup meriah. Bersama dengan keluarga besar KEMUNI saya merasa sangat menikmati Lebaran kedua saya di Belanda, meskipun paginya saya kangen juga Lebaran di Magelang. Hidangan Lebaran lengkap tersaji dan aneka snack serta kue khas Lebaran ternyata juga ada. Saya merasa sangat bersyukur dengan Lebaran kali ini. Semoga sedikit foto-foto ini bisa menggambarkan kemeriahan Lebaran di Nijmegen. Check this link below :
Lebaran pic from mz Oky
Lebaran pic from mb Linda
No comments:
Post a Comment