Perjalanan panjang dan cukup berliku dengan kereta yang pertama kali saya alami ada di hari Selasa, 7 Februari 2012. Belanda memang sangat terkenal dengan kereta api eksotis berwarna kuning biru yang berlogo NS, kepanjangan dari Nederlande Spoorwagen (NS). bentuk kretanya dapat dilihat di video klip berikut..http://www.youtube.com/watch?v=AayfvKKL_ks&ob=av2e
Di hari itu saya harus mengambil ujian Anatomy and Physiology Science di Utrecht karena proporsi kuliah Anatomy and Physiology saya sewaktu S1 kurang mencukupi untuk mengikuti kuliah Laboratory Animal Science. Utrecht sendiri terletak di Belanda bagian tengah, sebenarnya tidak terlalu jauh dari kota saya, Nijmegen, dan dapat ditempuh satu jam perjalanan dengan kereta. Di Belanda, kalau ingin ke kota-kota lain perjalanan yang ditempuh dengan kereta cukup cepat, bahkan mungkin dari ujung Belanda di selatan yaitu Maastricht hingga yang di utara (Groningen) hanya membutuhkan 4-5 jam. Maka perjalanan saya ke Utrecht pun saya lakukan dalam sehari saja. kebetulan di Utrecht ada seorang PhD student Indonesia dibidang Pendidikan Matematika. Beliau adalah guru saya jaman SMA, Pak Ariyadi Wijaya. Tempo hari saya sudah menghubungi beliau untuk memandu saya di Utrecht nanti, terutama memandu jalan-jalan. Seusai ujian saya harus mbolang dulu dong pastinya. Rugi sekali kalau cuma datang ujian dan langsung kembali ke Nijmegen..:)
Malam sebelumnya saya sudah melihat jadwal keberangkatan kereta menuju Utrecht. Hal ini selalu dilakukan oleh hampir semua orang di Belanda untuk mengecek jadwal kereta, tinggal buka http://www.ns.nl/en/travellers/home dan kita pun bisa memilih semua perjalanan yang akan dilakukan dari dan ke seluruh kota di Belanda yang memiliki stasiun. Dari jadwal tersebut dikatakan bahwa saya dapat pergi ke Utrecht dengan kereta pukul 9.10 dari Central Station, Nijmegen dan tiba di Utrecht pada pukul 10.05. Sebenarnya ada beberapa pilihan yang tersedia, namun karena ujian saya pukul 11.30, maka saya ambil jadwal tersebut karena saya rasa cukup pas, mengingat setelah itu saya harus naik bus lagi ke Utrecht Universiteit.
Saya pun berangkat dengan penuh semangat, semua persiapan sudah beres otak juga sudah terisi dengan materi, membuka memori-memori lama tentang Anatoy and Physiology pada hewan. Saya pun berjalan ke stasiun karena jaraknya yang lumyan dekat dengan flat saya. Sampai di stasiun saya beli tiket dan menunggu di Spoor 3 yang akan membawa saya ke Utrecht. Di papan informasi masih tertulis bahwa kereta pukul 9.10 dengan tujuan akhir Den Helder via Utrecht Central masih berangkat. Sudah diinformasikan sebelumnya bahwa akan ada gangguan perjalanan kereta karena salju yang turun di hari Jumat sebelumnya menutupi beberapa jalur perjalanan kereta, yang berimbas pada keterlambatan beberapa jadwal kereta. Saya masih optimis jalur Nijmegen-Utrecht masih baik-baik saja buktinya hingga 2 menit sebelum berangkat, papan informasi masih menunjukkan tujuan akhir kereta dan stasiun-stasiun yang dilewati. Saya pun berharap tidak ada gangguan dalam perjalanan ini, hingga 10 menit setelah meninggalkan stasiun Nijmegen untuk menuju Arnhem disampaikanlah pengumuman dan akhirnya saya harus mengubah rute perjalanan saya.
Pengumuman disampaikan dalam bahasa Belanda, meski ada beberapa kata yang bisa saya tangkap, namun saya kurang paham betul apa maksudnya. Saya pun bertanya pada bule yang duduk di sebelah saya. Katanya kereta ini (yang saya naiki) tidak sampai Den Helder, kereta akan menuju Ede-Wageningen dan kembali laigi ke Nijmegen karena ada "sesuatu" antara stasiun Ede dan Utrecht. Jika ingin melanjutkan perjalanan dari stasiun Ede-Wageningen ke stasiun-stasiun selanjutnya dapat ditempuh dengan kereta lain yang lebih lambat (stoptrein), dan untuk perjalanan saya sendiri, si bule menyaranan untuk berhenti di Wageningen dan mengambil stoptrein ke Amersfoort, dan dari sini saya dapat melanjutkan ke Utrecht dengan kereta kuning-biru lagi (Intercity). Setibanya di stasiun Arnhem inilah balada saya dimulai.
Saya turuti saja saran si bule karena dia orang Belanda dan pastinya lebih tau, saat itu saya agak panik juga karena berarti saya akan datang terlambat mungkin. Saya pun mencoba untuk browsing dari BB saya, namun web-nya tidak terbuka, tambah sedikit panik lah saya. Akhirnya saya coba kirim bbm dan whatsapp ke beberapa teman Indonesia saya, mungkin ada yang sedang di depan komputer dan bisa membatu saya untuk melihat jadwal kereta jika ada alternatif lain selain jalur Ede-Amersfoort-Utrecht. Ternyata bbm saya dibalas oleh Avissa, sahabat yang satu beasiswa dengan saya, katanya dari Ede akan ada kereta Intercity ke Utrecht, saya agak lega. Setiba di Ede, udara sangat dingin karena masih ada sisa-sisa salju, di papan juga tertulis ada kereta yang bisa langsung ke Utrecht dalam 10 menit. Saya pun menunggu di ruang tertutup karena tidak tahan dengan udara yang begitu dingin. Saya lihat terus papan informasi hingga tiga menit sebelum berangkat, tiba-tiba jadwal di papan berubah. WHAT??? paniklah saya. Saya kirim bbm ke Avissa ada alternatif apalagi sekarang, katanya dalam 5 menit akan ada stoptrein ke Amersfoort dari situ saya bisa naik kereta langsung ke Utrecht. Saya tunggu saja kereta itu dan memang benar ada kereta ke Amersfoort. Perjalanan Ede-Amersfoort dengan stoptrein membutuhkan waktu 20 menit. Saya tambah panik saja karena sudah pukul 10.30 yanng artinya satu jam lagi saya harus sampai, tapi nampaknya agak mustahil. Di dalam kereta saya mencoba untuk tenang semoga masih bisa sampai tepat waktu. Satu stasiun sebelum Amersfoort, tiba-tiba ada pengumuman lagi (dalam bahasa Belanda) tapi indikasinya tidak menyenangkan karena semua orang tampak kecewa. Waduh, ada apalagi ini?? Ternyata kereta akan berhenti di stasiun kecil itu dan jika ingin ke Amersfoort disediakan bus. Saya sudah pasrah, terlambat pasti dan masih harus ke Amersfoort baru bisa ke Utrecht, benar-benar ujian yang sebenarnya saya alami, ujian kesabaran. Selama dalam perjalanan saya selalu mengirimkan bbm ke Avissa, untungnya sahabat saya ini tidak ada acara hari itu dan bisa memandu saya sepanjang perjalan ke Utrecht.
Saya pun tiba di stasiun Utrecht Central sekitar pukul 12.30, dan itu sudah sangat terlambat, namun saya tetap datang saja ke ruang ujian di kampus Utrecht. Syukurlah saya masih bisa mengikuti ujian, sang penguji memahami keterlambatan saya. Memang jika salju turun perjalanan kereta jadi sangat terganggu bisa sampai satu minggu lebih bisa normal kembali. Selepas ujian saya pun berkeliling Utrecht bersama dengan Pak Ariyadi dan menikmati panekuken paling enak di Utrecht. Syukurlah hasil ujian sudah keluar dan saya LULUS... Alhamdulillah... :)
wow,
ReplyDeletekeren non,,,
benar" perjuangan yang semakin membuat tambah dewasa,
lain kali berangkat hari sebelumnya aj, nginep di utrecht :)
hahahaha...itu pas pertama-pertama..sekrang mah uda biasa...:P
Deletelain kali klo ke utrecht buat maen bukan ujian..hihihi...^^