Saturday, October 8, 2011. Madurodam, The Hague
![]() |
Logo Huygens scholarship |
Yap.. itulah tagline yang selalu digembor-gemborkan oleh Nuffic untuk beasiswa begengsinya HSP Huygens. Saya menyadari bahwa saya bukanlah seseorang yang pandai dengan IPK tertinggi maupun juara paralel. Saya hanya berusaha dengan apa yang saya miliki dan Allah anugerahkan. Jujur saja saya agak minder dengan tagline ini, tapi ya mau bagaimana lagi.
Posting kali ini saya hanya ingin berbagi pengalaman saya 3 hari lalu di Den Haag.
Pagi itu cuaca agak kurang bersahabat, suhu di Nijmegen 11 derajat, diperkirakan suhu di Den Haag akan lebih rendah. Musimnya masih musim gugur, angin bertiup cukup kencang. agak shock juga untuk orang tropis seperti saya kesasar di negeri antah berantah ini. Saya pakai sepatu boots baru saya dan jaket pemberian Pakdhe saya untuk acara "bergengsi" ini dan tak lupa BATIK kebanggaan Indonesia, dan tentunya made in Jogjakarta. Saya berangkat dengan kereta dan akan bertemu dengan teman sekampung (Indonesia) di stasiun Den Haag central. Benar saja, begitu turun kereta hawa dingin meliputi dan langsung menuju stasiun tram untuk menuju Madurodam.
Weekend inilah saat kami dipertemukan. Seluruh siswa terbaik dari semua negara di dunia, yang terpilih mendapatkan beasiswa belajar di Belanda dikumpulkan untuk mendapatkan sertifikat dari pemberi beasiswa, Nuffic. Acara dimulai setelah makan siang, saya duduk bersama 6 orang mahasiswa Indonesia lain yang juga mendapatkan beasiswa ini, mereka adalah Avissa Yunita, Michele Ayu C. K., Ricky Lim, Chely B, Irene Panjalu, dan saya sendiri. Secara tak terduga, 3 orang ini adalah alumni dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaiyu, Michele, Avissa, dan saya. Suatu prestasi tersiendiri bagi UGM dapat mengirimkan 3 orang mahasiswanya mendapatkan beasiswa bergengsi. Kami duduk per negara dan hanya kira-kira 3 orang dari setiap negara yang beruntung mendapatkan besiswa ini, dengan total 189 orang.
Singkat cerita nama kami pun dipanggil satu per satu untuk mendapatkan sertifikat dan foto bersama. Ketika nama saya dipanggil, saya terharu, dalam hati kecil saya, teringat perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa ini, pengorbanan orang tua saya untuk melepaskan putri tunggalnya, doa dan semangat teman-teman terdekat saya, serta keluarga besar saya. Kebanggan tersendiri bagi saya ketika saya melangkah dan menerima selembar kertas berwarna orange dan menjadi satu-satunya mahasiswa berjilbab diantara yang lain.
![]() |
Bersama meneer D. van Aken |
Setelah acara pemberian sertifikat, kami pun diberikan waktu untuk membangun networking sejak dini antar sesama penerima beasiswa. Saya sempat berkenalan dengan beberapa rekan dengan background Biology dan Biomedis serta Farmasi. Senang sekali rasanya menemukan teman seperjuangan meski berbeda kota. Merekapun bersal dari negara berbeda, ada Mesir, Ukraina, Mexico, China, India. Pada sesi ramah tamah ini saya juga sempat berkenalan dengan petinggi Nuffic yang menangani beasiswa Huygens., beliau adalah Daniel van Aken. Sebagai informasi, bahwa tahun saya ini adalah tahun terkahir diadakannya beasiswa HSP Huygens. Saya dan teman-teman sangat menyayangkan berakhirnya beasiswa ini karena sebenarnya masih banyak siswa-siswa Indonesia yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, apa mau dikata, krisis eropa telah memotong beberapa budget termasuk beasiswa. Di lain pihak, saya berharap bahwa rekan-rekan yang ingin melanjutkan studinya di Belanda masih bersemangat untuk mengejar mimpi-mimpinya. Ada banyak jalan untuk menggapai Eropa.
Acara pun diakhiri dengan makan malam prasmanan ala kondangan seperti di Indonesia. Senang sekali menemukan nasi, tempe, dan tahu pada salah satu menunya, diantara menu-menu western food yang lain. Yap, di Belanda memang citarasa kuliner Indonesia banyak diminati. Di kota besar biasanya ada restoran-restoran Indonesia yang siap menyediakan makanan-makanan Indonesia yang sangat dirindukan oleh peranatau seperti saya.
Salam hangat saya dari Belanda yang dingin
No comments:
Post a Comment